Showing posts with label Pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label Pengetahuan. Show all posts
09/06/2011
Pencemaran Lingkungan
Pencemaran adalah sesuatu (zat atau benda) yang berada pada tempat yang salah, pada waktu yang salah dan jumlah yang salah. Pencemaran lingkungan memiliki kaitan yang erat dengan manusia, karena itu selama dua abad terakhir ini telah menjadi momentum peningkatan lingkungan secara keseluruhan di permukaan bumi ini sebagai hasil dari kegiatan manusia. Hal ini diperparah lagi dengan kondisi jumlah populasi manusia dari masa ke masa selalu bertambahdengan pesat, sedangkan hasil teknologi pengolahan limbah tidak menentu sehingga terjadi korelasi positif antara kecepatan peningkatan populasi dengan kenaikan kuantitas limbah di bumi ini.
Untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan oleh berbagai aktivitas industri dan aktivitas manusia, maka diperlukan pengendalian terhadap pencemaran lingkungan dengan menetapkan baku mutu lingkungan. Pencemaran terhadap lingkungan yang dapat terjadi dimana saja dengan laju yang sangat cepat, dan beban pencemaran yang semakin berat akibat limbah industri dan berbagai bahan kimia termasuk logam berat.
Berdasarkan lingkungan yang mengalami pencemaran, secara garis besar pencemaran lingkungan dapat dikelompokkan menjadi pencemaran air, tanah, dan udara.
a. Pencemaran Air
Di dalam tata kehidupan manusia, air banyak memegang peranan penting antara lain untuk minum, memasak, mencuci dan mandi. Di samping itu air juga banyak diperlukan untuk mengairi sawah, ladang, industri, dan masih banyak lagi.
Tindakan manusia dalam pemenuhan kegiatan sehari-hari, secara tidak sengaja telah menambah jumlah bahan anorganik pada perairan dan mencemari air. Misalnya, pembuangan detergen ke perairan dapat berakibat buruk terhadap organisme yang ada di perairan. Pemupukan tanah persawahan atau ladang dengan pupuk buatan, kemudian masuk ke perairan akan menyebabkan pertumbuhan tumbuhan air yang tidak terkendali yang disebut eutrofikasi atau blooming. Beberapa jenis tumbuhan seperti alga, paku air, dan eceng gondok akan tumbuh subur dan menutupi permukaan perairan sehingga cahaya matahari tidak menembus sampai dasar perairan. Akibatnya, tumbuhan yang ada di bawah permukaan tidak dapat berfotosintesis sehingga kadar oksigen yang terlarut di dalam air menjadi berkurang.
Bahan-bahan kimia lain, seperti pestisida atau DDT (Dikloro Difenil Trikloroetana) yang sering digunakan oleh petani untuk memberantas hama tanaman juga dapat berakibat buruk terhadap tanaman dan organisme lainnya. Apabila di dalam ekosistem perairan terjadi pencemaran DDT atau pestisida, akan terjadi aliran DDT.
b. Pencemaran Tanah
Tanah merupakan tempat hidup berbagai jenis tumbuhan dan makhluk hidup lainnya termasuk manusia. Kualitas tanah dapat berkurang karena proses erosi oleh air yang mengalir sehingga kesuburannya akan berkurang. Selain itu, menurunnya kualitas tanah juaga dapat disebabkan limbah padat yang mencemari tanah.
Menurut sumbernya, limbah padat dapat berasal dari sampah rumah tangga (domestik), industri dan alam (tumbuhan). Adapun menurut jenisnya, sampah dapat dibedakan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik berasal dari sisa-sisa makhluk hidup, seperti dedaunan, bangkai binatang, dan kertas. Adapun sampah anorganik biasanya berasal dari limbah industri, seperti plastik, logam dan kaleng.
Sampah organik pada umumnya mudah dihancurkan dan dibusukkan oleh mikroorganisme di dalam tanah. Adapun sampah anorganik tidak mudah hancur sehingga dapat menurunkan kualitas tanah.
c. Pencemaran Udara
Udara dikatakan tercemar jika udara tersebut mengandung unsur-unsur yang mengotori udara. Bentuk pencemar udara bermacam-macam, ada yang berbentuk gas dan ada yang berbentuk partikel cair atau padat.
1) Pencemar Udara Berbentuk Gas
Beberapa gas dengan jumlah melebihi batas toleransi lingkungan, dan masuk ke lingkungan udara, dapat mengganggu kehidupan makhluk hidup. Pencemar udara yang berbentuk gas adalah karbon monoksida, senyawa belerang (SO2 dan H2S), seyawa nitrogen (NO2), dan chloroflourocarbon (CFC).
Kadar CO2 yang terlampau tinggi di udara dapat menyebabkan suhu udara di permukaan bumi meningkat dan dapat mengganggu sistem pernapasan. Kadar gas CO lebih dari 100 ppm di dalam darah dapat merusak sistem saraf dan dapat menimbulkan kematian. Gas SO2 dan H2S dapat bergabung dengan partikel air dan menyebabkan hujan asam. Keracunan NO2 dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, kelumpuhan, dan kematian. Sementara itu, CFC dapat menyebabkan rusaknya lapian ozon di atmosfer.
2) Pencemar Udara Berbentuk Partikel Cair atau Padat
Partikel yang mencemari udara terdapat dalam bentuk cair atau padat. Partikel dalam bentuk cair berupa titik-titik air atau kabut. Kabut dapat menyebabkan sesak napas jika terhiap ke dalam paru-paru.
Partikel dalam bentuk padat dapat berupa debu atau abu vulkanik. Selain itu, dapat juga berasal dari makhluk hidup, misalnya bakteri, spora, virus, serbuk sari, atau serangga-serangga yang telah mati. Partikel-partikel tersebut merupakan sumber penyakit yang dapat mengganggu kesehatan manusia.
Partikel yang mencemari udara dapat berasal dari pembakaran bensin. Bensin yang digunakan dalam kendaraan bermotor biasanya dicampur dengan senyawa timbal agar pembakarannya cepat mesin berjalan lebih sempurna. Timbal akan bereaki dengan klor dan brom membentuk partikel PbClBr. Partikel tersebut akan dihamburkan oleh kendaraan melalui knalpot ke udara sehingga akan mencemari udara.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap beberapa lingkungan yang mengalami pencemaran didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Pengetahuan Tentang Pencemaran Lingkungan
Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lngkungan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfingsi lagi sesuai dengan peruntukannya.
Pencemaran dapat timbul sebagai akibat kegiatan manusia ataupun disebabkan oleh alam (misal gunung meletus, gas beracun). Ilmu lingkungan biasanya membahas pencemaran yang disebabkan oleh aktivitas manusia, yang dapat dicegah dan dikendalikan.
Karena kegiatan manusia, pencermaran lingkungan pasti terjadi. Pencemaran lingkungan tersebut tidak dapat dihindari. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi pencemaran, mengendalikan pencemaran, dan meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya agar tidak mencemari lingkungan.
Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran di sebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makluk hidup. Contohnya, karbon dioksida dengan kadar 0,033% di udara berfaedah bagi tumbuhan, tetapi bila lebih tinggi dari 0,033% dapat memberikan efek merusak.
Suatu zat dapat disebut polutan apabila :
1. Jumlahnya melebihi jumlah normal.
2. Berada pada waktu yang tidak tepat.
3. Berada di tempat yang tidak tepat.
Sifat polutan adalah :
1. Merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat lingkungan tidak merusak lagi.
2. Merusak dalam waktu lama. Contohnya Pb tidak merusak bila konsentrasinya rendah. Akan tetapi dalam jangka waktu yang lama, Pb dapat terakumulasi dalam tubuh sampai tingkat yang merusak.
2. Jenis-jenis Pencemaran Lingkungan
a. Berdasarkan Tempat Terjadinya
Menurut tempat terjadinya, pencemaran dibedakan menjadi pencemaran udara, air, dan tanah.
Pencemaran Udara
Pencemaran udara disebabkan oleh asap buangan, misalnya gas CO2 hasil pembakaran, SO, SO2, CFC, CO, dan asap rokok.
1. CO2
Pencemaran udara yang paling menonjol adalah semakin meningkatnya kadar CO2 di udara. Karbon dioksida itu berasal dari pabrik, mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar fosil (batubara, minyak bumi), juga dari mobil, kapal, pesawat terbang, dan pembakaran kayu. Meningkatnya kadar CO2 di udara tidak segera diubah menjadi oksigen oleh tumbuhan karena banyak hutan di seluruh dunia yang ditebang. Sebagaimana diuraikan diatas, hal demikian dapat mengakibatkan efek rumah kaca.
2. CO
Di lingkungan rumah dapat pula terjadi pencemaran. Misalnya, menghidupkan mesin mobil di dalam garasi tertutup. Jika proses pembakaran di mesin tidak sempurna, maka proses pembakaran itu menghasilkan gas CO (karbon monoksida) yang keluar memenuhi ruangan. Hal ini dapat membahayakan orang yang ada di garasi tersebut. Selain itu, menghidupkan AC ketika tidur di dalam mobil dalam keadaan tertutup juga berbahaya. Bocoran gas CO dari knalpot akan masuk ke dalam mobil, sehingga dapat menyebabkan kamatian.
3. CFC
Pencemaran udara yang berbahaya lainnya adalah gas khloro fluoro karbon (disingkat CFC). Gas CFC digunakan sebagai gas pengembang, karena tidak beraksi, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berbahaya. Gas ini dapat digunakan misalnya untuk mengembangkan busa (busa kursi), untuk AC (freon), pendingin pada almari es, dan penyemprot rambut (hair spray).
Gas CFC yang membumbung tinggi dapat mencapai stratosfer terdapat lapisan gas ozon (O3). Lapisan ozon ini merupakan pelindung bumi dari pengaruh cahaya ultraviolet. Kalau tidakl ada lapisan ozon, radiasi cahaya ultraviolet mencapai permukaan bumi, menyebabkan kematian organisme, tumbuhan menjadi kerdil, menimbulkan mutasi genetik, menyebebkan kanker kulit atau kanker retina mata. Jika gas CFC mencapai ozon, akan terjadi reaksi antara CFC dan ozon, sehingga lapisan ozon tersebut “berlubang” yang disebut sebagai “lubang” ozon. Menurut pengamatan melalui pesawat luar angkasa, lubang ozon di kutub Selatan semakin lebar. Saat ini luasnya telah melebihi tiga kali luas benua Eropa. Karena itu penggunaan AC harus dibatasi.
4. SO, SO2
Gas belerang oksida (SO, SO2) di udara juga dihasilkan oleh pembakaran fosil (minyak, batubara). Gas tersebut dapat beraksi dengan gas nitrogen oksida dan air hujan, yang menyebabkan air hujan menjadi asam. Maka terjadilah hujan asam.
Hujan asam mengakibatkan tumbuhan dan hewan-hewan tanah mati. Produksi pertanian merosot. Besi dan logam mudah berkarat. Bangunan –bangunan kuno, seperti candi, menjadi cepat aus dan rusak. Demikian pula bangunan gedungdan jembatan.
5. Asap Rokok
Polutan udara yang lain yang berbahaya bagi kesehatan adalah asap rokok. Asap rokok mengandung berbagai bahan pencemar yang dapat menyababkan batuk kronis, kanker patu-paru, mempengaruhi janin dalam kandungan dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.
Perokok dapat di bedakan menjadi dua yaitu perokok aktif dan perokok pasif. Perokok aktif adalah mereka yang merokok. Perokok pasif adalah orang yang tidak merokok tetapi menghirup asap rokok di suatu ruangan.
Menurut penelitian, perokok pasif memiliki risiko yang lebih besar di bandingkan perokok aktif. Jadi, merokok di dalam ruangan bersama orang lain yang tidak merokok dapat mengganggu kesehatan orang lain.
Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran udara antara lain :
* Terganggunya kesehatan manusia, seperti batuk dan penyakit pernapasan (bronkhitis, emfisema, dan kemungkinan kanker paruparu).
* Rusaknya bangunan karena pelapukan, korosi pada logam, dan memudarnya warna cat.
* Terganggunya oertumbuhan tananam, seperti menguningnya daun atau kerdilnya tanaman akibat konsentrasi SO2 yang tinggi atau gas yang bersifat asam. Adanya peristiwa efek rumah kaca (green house effect) yang dapat menaikkan suhu udara secara global serta dapat mengubah pola iklim bumi dan mencairkan es di kutub. Bila es meleleh maka permukaan laut akan naik sehingga mempengaruhi keseimbangan ekologi.
* Terjadinya hujan asam yang disebabkan oleh pencemaran oksida nitrogen.
Pencemaran Air
Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur, atau komponen lainnya kedalam air sehingga menyebabkan kualitas air terganggu. Kualitas air yang terganggu ditandai dengan perubahan bau, rasa, dan warna.
Ditinjau dari asal polutan dan sumber pencemarannya, pencemaran air dapat dibedakan antara lain :
1. Limbah Pertanian
Limbah pertanian dapat mengandung polutan insektisida atau pupuk organik. Insektisida dapat mematikan biota sungai. Jika biota sungai tidak mati kemudian dimakan hewan atau manusia orang yang memakannya akan keracunan. Untuk mencegahnya, upayakan agar memilih insektisida yang berspektrum sempit (khusus membunuh hewan sasaran) serta bersifat biodegradabel (dapat terurai oleh mikroba) dan melakukan penyemprotan sesuai dengan aturan. Jangan membuang sisa obet ke sungai. Sedangkan pupuk organik yang larut dalam air dapat menyuburkan lingkungan air (eutrofikasi). Karena air kaya nutrisi, ganggang dan tumbuhan air tumbuh subur (blooming). Hal yang demikian akan mengancam kelestarian bendungan. bemdungan akan cepat dangkal dan biota air akan mati karenanya.
2. Limbah Rumah Tangga
Limbah rumah tangga yang cair merupakan sumber pencemaran air. Dari limbah rumah tangga cair dapat dijumpai berbagai bahan organik (misal sisa sayur, ikan, nasi, minyak, lemek, air buangan manusia) yang terbawa air got/parit, kemudian ikut aliran sungai.
Adapula bahan-bahan anorganik seperti plastik, alumunium, dan botol yang hanyut terbawa arus air. Sampah bertimbun, menyumbat saluran air, dan mengakibatkan banjir. Bahan pencemar lain dari limbah rumah tangga adalah pencemar biologis berupa bibit penyakit, bakteri, dan jamur.
Bahan organik yang larut dalam air akan mengalami penguraian dan pembusukan. Akibatnya kadar oksigen dalam air turun dratis sehingga biota air akan mati. Jika pencemaran bahan organik meningkat, kita dapat menemui cacing Tubifex berwarna kemerahan bergerombol. Cacing ini merupakan petunjuk biologis (bioindikator) parahnya pencemaran oleh bahan organik dari limbah pemukiman.
Dikota-kota, air got berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau yang menyengat. Didalam air got yangdemikian tidak ada organisme hidup kecuali bakteri dan jamur. Dibandingkan dengan limbah industri, limbah rumah tangga di daerah perkotaan di Indonesia mencapai 60% dari seluruh limbah yang ada.
3. Limbah Industri
Adanya sebagian industri yang membuang limbahnya ke air. Macam polutan yang dihasilkan tergantung pada jenis industri. Mungkin berupa polutan organik (berbau busuk), polutan anorganik (berbuaih, berwarna), atau mungkin berupa polutan yang mengandung asam belerang (berbau busuk), atau berupa suhu (air menjadi panas). Pemerintah menetapkan tata aturan untuk mengendalikan pencemara air oleh limbah industri. Misalnya, limbah industri harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai agar tidak terjadi pencemaran.
Dilaut, sering terjadi kebocoran tangker minyak karena bertabrakan dengan kapal lain. Minyak yang ada di dalam kapal tumpah menggenangi lautan dalam jarak ratusan kilometer. Ikan, terumbu karang, burung laut, dan hewan-hewan laut banyak yang mati karenanya. Untuk mengatasinya, polutan dibatasi dengan pipa mengapung agar tidak tersebar, kemudian permukaan polutan ditaburi dengan zat yang dapat menguraikan minyak.
4. Penangkapan Ikan Menggunakan racun
Sebagia penduduk dan nelayan ada yang menggunakan tuba (racun dari tumbuhan atau potas (racun)untuk menangkap ikan tangkapan, melainkan juga semua biota air. Racun tersebut tidak hanya hewan-hewan dewasa, tetapi juga hewan-hewan yang masih kecil. Dengan demikian racun yang disebarkan akan memusnahkan jenis makluk hidup yang ada didalamnya. Kegiatan penangkapan ikan dengan cara tersebut mengakibatkan pencemaran di lingkungan perairan dan menurunkan sumber daya perairan.
Akibat yang dtimbulkan oleh pencemaran air antara lain :
1. Terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya kandungan oksigen.
2. Terjadinya ledakan populasi ganggang dan tumbuhan air (eutrofikasi, dan Pendangkalan Dasar perairan.
3. Punahnya biota air, misalnya ikan, yuyu, udang, dan serangga air.
4. Munculnya banjir akibat got tersumbat sampah.
5. Menjalarnya wabah muntaber.
Pencemaran tanah
Pencemaran tanah banyak diakibatkan oleh sampah-sampah rumah tangga, pasar, industri, kegiatan pertanian, dan peternakan. Sampah dapat dihancurkan oleh jasad-jasad renik menjadi mineral, gas, dan air, sehingga terbentuklah humus. Sampah organik itu misalnya dedaunan, jaringan hewan, kertas, dan kulit. Sampah-sampah tersebut tergolong sampah yang mudah terurai. Sedangkan sampah anorganik seperti besi, alumunium, kaca, dan bahan sintetik seperti plastik, sulit atau tidak dapat diuraikan. Bahan pencemar itu akan tetap utuh hingga 300 tahun yang akan datang. Bungkus plastik yang kita buang ke lingkungan akan tetap ada dan mungkin akan ditemukan oleh anak cucu kita setelah ratusan tahun kemudian.
Sebaiknya, sampah yang akan dibuang dipisahkan menjadi dua wadah. Pertama adalah sampah yang terurai, dan dapat dibuang ke tempat pembuangan sampah atau dapat dijadikan kompos. Jika pembuatan kompos dipadukan dengan pemeliharaan cacing tanah, maka akan dapat diperoleh hasil yang baik. cacing tanah dapat dijual untuk pakan ternak, sedangkan tanah kompos dapat dijual untuk pupuk.
Proses ini merupakan proses pendaurulangan (recycle). Kedua adalah sampah yang tak terurai, dapat dimanfaatkan ulang (penggunaulangan = reuse). Misalnya, kaleng bekas kue digunakan lagi untuk wadah makanan, botol selai bekas digunakan untuk tempat bumbu dan botol bekas sirup digunakan untuk menyimpan air minum.
Baik pendaur-ulangan maupun penggunaulangan dapat mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Keuntungannya, beban lingkungan menjadi berkurang. Kita tahu bahwa pencemaran tidak mungkin dihilangkan. Yang dapat kita lakukan adalah mencegah dampak negatifnya atau mengendalikannya.
Selain penggunaulangan dan pendaurulangan, masih ada lagi upaya untuk mencegah pencemaran, yaitu melakukan pengurangan bahan/ penghematan (reduce), dan melakukan pemeliharaan (repair). Di negara maju, slogan-slogan reuse, reduce, dan repair, banyak diedarkan ke masyarakat.
Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran tanah antara lain
a. Terganggunya kehidupan organisme (terutama mikroorganisme dalam tanah).
b. Berubahnya sifat kimia atau sifat fisika tanah sehingga tidak baik untuk pertumbuhan tanaman, dan
c. Mengubah dan mempengaruhi keseimbangan ekologi.
b. Berdasarkan Macam Bahan Pencemaran
1. Pencemaran kimiawi : CO2 logam berat (Hg, Pb, As, Cd, Cr, Ni,) bahan raioaktif, pestisida, detergen, minyak, pupuk anorganik.
2. Pencemaran Biolagi : mikroorganisme seperti Escherichia coli, Entamoeba coli, Salmonella thyposa.
3. Pencemara fisik : logam, kaleng, botol, kaca, plastik, karet.
4. Pencemaran Suara : kebisingan.
Pencemaran Suara (kebisingan)
Dikota-kota atau di daerah dekat industri / pabrik sering terjadi kebisingan. Pencemaran suara disebabkan oleh masuknya bunyi gaduh diatas 50 desibel (disingkat dB, merupakan ukuran tingkat kebisingan). Bunyi tersebut mengganggu kesehatan dan ketenangan manusia. Kebisingan menyebabkan penduduk menjadi sulit tidu, bahkan dapat mengakibatkan tuli, gangguan kejiwaan, dan dapat pula menimbulkan penyakit jantung, gangguan janin dalam kandungan, dan stress.
Saat ini telah diusahakan agar mesin-mesin yang digunakan manusia tidak terlalu bising. jika bising harus diusahakan adanya isolator. menanam tanaman berdaun rimbun di halaman rumah meredam kebisingan. Bagi mereka yang suka mendengarkan musik yang hingar bingar, hendaknya mendengarkan di tempat khusus (misal di dalam kamar) agar tidak mengganggu orang lain.
c. Berdasarkan Tingkat Pencemaran
1. Pencemaran ringan, yaitu pencemaran yang dimulai menimbulkan gangguan ekosistem lain. Contohnya pencemaran gas kendaraan bermotor.
2. Pencemaran kronis, yaitu pencemaran yang mengakibatkan penyakit kronis. Contohnya pencemaran Minamata, Jepang.
3. Pencemaran akut, yaitu pencemaran yang dapat mematikan seketika.
Contohnya pencemaran gas CO dari knalpot yang mematikan orang di dalam mobil tertutup, dan pencemaran radioaktif.
3. Dampak Pencemaran Lingkungan
a. Punahnya Spesies
Sebagaimana telah diuraikan, polutan berbahaya bagi biota air dan darat. Berbagai jenis hewan mengelami keracunan, kemudian mati. Berbagai spesies hewan memiliki kekebalan yang tidak sama. Ada yang peka, ada pula yang tahan. Hewan muda, larva merupakan hewan yang peka terhadap bahan pencemar. Ada hewan yang dapat beradaptasi sehingga kebal terhadap bahan pencemar., adapula yang tidak. Meskipun hewan beradaptasi, harus diketahui bahwa tingkat adaptasi hewan ada batasnya. Bila batas tersebut terlampui, hewan tersebut akan mati.
b. Peledakan Hama
Penggunaan insektisida dapat pula mematikan predator. Karena predator punah, maka serangga hama akan berkembang tanpa kendali.
c. Gangguan Keseimbangan Lingkungan
Punahnya spasies tertentu dapat mengibah pola interaksi di dalam suatu ekosistem. Rantai makanan, jaring-jaring makanan dan lairan energi menjadiberubah. Akibatnya, keseimbangan lingkngan terganggu. Daur materi dan daur biogeokimia menjadi terganggu.
d. Kesuburan Tanah Berkurang
Penggunaan insektisida mematikan fauna tanah. Hal ini dapat menurunkan kesuburan tanah. Penggunaan pupuk terus menerus dapat menyebabkan tanah menjadi asam. Hal ini juga dapat menurunkan kesuburan tanah. Demikian juga dengan terjadinya hujan asam.
e. Keracunan dan Penyakit
Orang yang mengkonsumsi sayur, ikan, dan bahan makanan tercemar dapat mengalami keracunan. ada yang meninggal dunia, ada yang mengalami kerusakan hati, ginjal, menderita kanker, kerusakan susunan saraf, dan bahkan ada yang menyebabkan cacat pada keturunanketurunannya.
f. Pemekatan Hayati
Proses peningkatan kadar bahan pencemar melewati tubuh makluk dikenal sebagai pemekatan hayati (dalam bahasa Inggrisnya dikenal sebagai biomagnificition). Terbentuknya Lubang Ozon dan Efek Rumah Kaca. Terbentuknya Lubang ozon dan terjadinya efek rumah kaca merupakan permasalahan global yang dirasakan oleh semua umat manusia. Hal ini disebabkan karena bahan pencemar dapat tersebar dan menimbulkan dampak di tempat lain.
4. Usaha-usaha Mencegah Pencemaran Lingkungan
Menempatkan daerah industri atau pabrik jauh dari daerah perumahan atau pemukiman penduduk.
Pembuangan limbah industri diatur sehingga tidak mencemari lingkungan atau ekosistem.
Pengawasan terhadap penggunaan jenis-jenis pestisida dan zat kimia lain yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.
Memperluas gerakan penghijauan.
Tindakan tegas terhadap pelaku pencemaran lingkungan.
Memberikan kesadaran terhadap masyarakat tentang arti lingkungan hidup sehingga manusia lebih mencintai lingkungan hidupnya
14/03/2011
Menulis Poster
Apa yang dimaksud dengan poster? Kamu pasti pernah melihat poster di tempat yang banyak dikerumuni orang, seperti jalan raya atau di pasar.
Nah, poster adalah plakat yang dipasang di tempat umum (berupa pengumuman atau iklan) yang ditulis di atas kertas atau papan yang cukup besar dengan huruf yang cukup besar dan warna yang mencolok agar mudah dibaca dari jarak jauh.
Ciri-Ciri Poster
·Bahasa poster singkat, padat, dan komunikatif
·Bahasa poster bersifat persuasif
·Biasanya poster dilengkapi gambar, warna, foto, atau ilustrasi
Poster Berdasarkan Kegunaan
a. Poster Pengumuman
Poster ini berfungsi untuk mengumumkan sesuatu yang sifatnya bukan untuk keperluan mencari keuntungan
b. Poster Iklan
Poster ini berfungsi untuk menawarkan atau mengiklankan produk tertentu. Produk yang ditawarkan bermacam-macam, misalnya sampo, sabun, dan bimbingan belajar seperti gambar di bawah.
Langkah-langkah menyusun sebuah poster yaitu:
1. Menentukan topik
poster pengumuman : seminar, lomba, pertunjukan
poster iklan : barang atau jasa
2. Menentukan unsur
gambar, ilustrasi, sketsa, foto, atau warna apa yang mendukung
pernyataan dengan mempertimbangkan aspek 5W + 1H
jenis huruf atau tulisan yang berukuran besar dan mencolok
Sumber : e-dukasi.net
Nah, poster adalah plakat yang dipasang di tempat umum (berupa pengumuman atau iklan) yang ditulis di atas kertas atau papan yang cukup besar dengan huruf yang cukup besar dan warna yang mencolok agar mudah dibaca dari jarak jauh.
Ciri-Ciri Poster
·Bahasa poster singkat, padat, dan komunikatif
·Bahasa poster bersifat persuasif
·Biasanya poster dilengkapi gambar, warna, foto, atau ilustrasi
Poster Berdasarkan Kegunaan
a. Poster Pengumuman
Poster ini berfungsi untuk mengumumkan sesuatu yang sifatnya bukan untuk keperluan mencari keuntungan
b. Poster Iklan
Poster ini berfungsi untuk menawarkan atau mengiklankan produk tertentu. Produk yang ditawarkan bermacam-macam, misalnya sampo, sabun, dan bimbingan belajar seperti gambar di bawah.
Langkah-langkah menyusun sebuah poster yaitu:
1. Menentukan topik
poster pengumuman : seminar, lomba, pertunjukan
poster iklan : barang atau jasa
2. Menentukan unsur
gambar, ilustrasi, sketsa, foto, atau warna apa yang mendukung
pernyataan dengan mempertimbangkan aspek 5W + 1H
jenis huruf atau tulisan yang berukuran besar dan mencolok
Sumber : e-dukasi.net
14/01/2011
Perkembangan dan Cara Belajar Anak SD
Pemahaman tentang konseptual tentang perkembangan dan cara belajar anak SD oleh mahasiswa PGSD adalah sangat penting karena mahasiswa PGSD nantinya akan terjun mengabdi kepada bangsa dan negara sebagai pendidik di Sekolah Dasar.
Sebagai tenaga pendidik di Sekolah Dasar adalah tidak mudah karena yang dihadapi adalah anak-anak yang masih labil atau rentang usia. Pada usia anak-anak SD adalah usia-usia dimana anak-anak sedang mengalami proses perkembangan, pertumbuhan, dan perubahan baik itu fisik, psikis, struktur maupun fungsi.
Pemahaman tentang konseptual tentang perkembangan dan cara belajar anak SD oleh mahasiswa PGSD adalah sangat penting karena mahasiswa PGSD nantinya akan terjun mengabdi kepada bangsa dan negara sebagai pendidik di Sekolah Dasar.
Sebagai tenaga pendidik di Sekolah Dasar adalah tidak mudah karena yang dihadapi adalah anak-anak yang masih labil atau rentang usia. Pada usia anak-anak SD adalah usia-usia dimana anak-anak sedang mengalami proses perkembangan, pertumbuhan, dan perubahan baik itu fisik, psikis, struktur maupun fungsi.
Perlu diketahui pula bahwa secara fisik anak pada usia SD memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan kondisi sebelum dan sesudahnya. Karakter perkembangan fisik ini perlu dipelajari karena akan memiliki implikasi tertentu bagi penyenlenggara pendidikan. Dalam hal ini diasumsikan bahwaaktivitas-aktivitas termasuk aktivitas biologis dan aktivitas-aktivitas mental lainnya banyak dipengaruhi oleh kondisi fsiknya dan pertumbuhan fisiknya dapat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan.
Banyak sekali perkembangan-perkembangan yang dialami oleh anak usia SD yang perlu dipahami oleh calon pendidik Sekolah Dasar sehingga nantinya para pendidik dapat mengembangkan atau dapat secara proposional dalam memberikan pelajaran atau kegiatan-kegiatan terhadap anak didiknya sehingga anak didiknya dapat dengan mudah untuk menerimanya. Untuk itu para calon pendidik Sekolah Dasar sangat perlu memahami tentang perkembangan dan cara belajar anak SD.
Sudah barang tentu upaya untuk mempelajari tentang perkembangan dan cara belajar anak SD tidak dapat secara sepotong-sepotong tetapi harus dipahami secara keseluruhan.
Pertama kita harus memahami konsep dasar :
1. Siapa itu anak SD dan bagaimana mereka berkembang ? Ini mencakup pemahaman tentang karakteristik perkembangan anak usia SD dalam berbagai aspek-aspek biologis, kognitif, bahasa dan psikososial.
2. Memahami cara belajar anak. Aspek ini termasuk pemahaman tentang prinsip-prinsip belajar anak, proses psikososial yang terjadi dalam belajar anak.
Dengan memahami konseptual di atas akan dapat dijadikan kerangka berpikir dalam memahami praktik dan masalah-masalah pendidikan di SD dan dapat mengaplikasikan pemahaman tersebut dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar yang berorientasi perkembangan di SD.
Sebagaimana penjelasan di atas bahwa untuk mempelajari perkembangan dan cara berpikir anak SD tidaklah sepotong-sepotong, maka untuk pemahaman itu diawali dari perkembangan anak sejak dalam kandungan.
Menyadari bahwa mahasiswa PGSD adalah mahasiswa yang dipersiapkan menjadi calon guru Sekolah Dasar ( SD ), sudah barang tentu harus mempunyai kemampuan untuk memahami konseptual tentang perkembangan dan cara berpikir anak SD.
Dengan memahami konseptual di atas para guru nantinya diharapkan dapat mengaplikasikan pemahaman tersebut dalam menyelenggarakan proses pendidikan. Namun perlu diketahui bahwa untuk memahami konseptual tentang perkembangan dan cara berpikir anak SD terlebih dahulu perlu memahami konsep-konsep pokok perkembangan sehingga akan memiliki kerangka dasar wawasan yang dapat membantu dalam memahami pembahasan-pembahasan selanjutnya.
A. Perbedaan antara Perkembangan dan Pertumbuhan dalam Perkembangan Anak Didik
Untuk membedakan perkembangan dibanding dengan pertumbuhan maka diperlukan penjelasan dari awalnya terbentuknya anak manusia adalah dari dua sel dasar yaitu sel telur dan sperma kemudian organisme berubah dan berkembang. Dua sel tersebut kemudian membelah diri dan berdiferensi untuk menghasilkan tulang, syaraf, otot, usus, otak, dan bagian-bagian organ lainnya. Setelah kurang lebih 9 bulan 10 hari dalam kandungan ibu organisme yang baru tumbuh itu akhirnya menjadi bayi manusia yang sempurna dan lahir ke dunia. Pada saat lahir hanya mempunyai ketrampilan hidup yang minimal, bernapas, menggerakan tubuh, menangis dan menyusu. Melalui interaksi dengan lingkungan (orang tua, saudara, orang dewasa lain dan obyek-obyek yang ada di sekitarnya) bayi akan terus lebih menyempurnakan diri. Bayi terus mengalami perubahan fisik baik dalam ukuran maupun proporsinya. Berat badan, tinggi badan terus bertambah. Kepala, badan, kaki, tangan, dan organ-organ lainnya terus berubah menhadi seimbang. Perilaku dan ketrampilan bayi pun semakin beraneka. Mulai dari berbaring, bergulir, menelungkup, duduk merangkak, berdiri, berjalan, dan akhirnya berlari ini adalah merupakan proses perubahan yang dialami oleh bayi yang disebut dengan perkembangan (development).
Pengertian Perkembangan
Pengertian perkembangan di sini adalah pola perubahan individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat (Santrock dan Yussen:1992). Namun tidak semua perubahan yang dialami organisme atau individu itu merupakan perkembangan. Perubahan dalam perkembangan dimaksud dapat terjadi karena belajar, faktor peristiwa, dan penggunaan obat.
Perubahan dalam arti perkembangan adalah berakar dari unsur biologis (Bjorklund dan Bjorklund:1992). Pengalaman-pengalaman atau aktivitas-aktivitas khusus anak dapat menimbulkan perubahan diri yang bersangkutan, misalnya anak berlatih menari jadi panda menari. Ini bukan merupakan perkembangan melainkan perubahan dalam arti belajar. Perubahan dalam arti perkembangan lebih berkaitan dengan fungsi waktu dan kematangan biologis dan terhadi pada periode yang lama dan bersifat umum tidak terkait dengan peristiwa dan pengalaman khusus tertentu namun pengalaman belajar juga akan mempengaruhi perkembangan yang bersangkutan.
Perkembangan dapat mencakup perubahan baik dalam struktur maupun fungsi (Bjorklund dan Bjorklund:1992) atau perubahan fisik maupun psikis (Abu Syamsudin Makmun:1996).
Perubahan dalam arti perkembangan bersifat terpola. Perkembangan juga bersifat unik bagi setiap individu. Perubahan dalam arti perkembangan terjadi secara bertahap. Perubahan dalam arti perkembangan dapat berlangsung sepanjang hayat. Perkembangan dapat didefinisikan pola perubahan organisme (individu) baik dalam struktur atau fungsi (fisik maupun psikis) yang terjadi secara teratur dan berorganisasi serta berlangsung sepanjang hayat.
Pengertian Pertumbuhan
Yang dimaksud dengan pertumbuhan di sini adalah merupakan pola perubahan yang dialami oleh individu. Pertumbuhan ini dimaksudkan sebagai perubahan dalam aspek hasmaniah seperti berubahnya struktur tulang, tinggi dan berat badan, proporsi badan, dan sebagainya. Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif dan terbatas pada pola perubahan fisik yang dialami individu sebagai hasil proses pematangan.
Menurut Witherington dan Hurlock (Abu Syamsudin Makmun:1996) dapat pula mencakup perubahan secara psikis kalau perubahan tersebut berupa munculnya suatu fungsi yang baru, seperti munculnya kemampuan berpikir simbolik, munculnya kemampuan berpikir abstrak, munculnya perasaan birahi terhadap lawan jenis.
Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan tercakup dalam pengertian perkembangan. Namun tidak setiap perubahan dalam arti perkembangan merupakan pertumbuhan. Pertumbuhan mencakup pada perubahan-perubahan yang bersifat evolusi (menuju ke arah yang lebih sempurna). Sedangkan perkembangan dapat pula mencakup perubahan-perubahan yang bersifat evolusi (penurunan dan perubahan menuju ke arah kematian).
B. Anak sebagai suatu Totalitas
Anak sebagai suatu totalitas ada tiga pengertian :
1. Anak dipandang sebagai makhluk hidup yang merupakan satu kesatuan dari keseluruhan aspek yang terdapat dalam dirinya. ini berarti bahwa keseluruhan aspek fisik dan psikis tak dapat dipisahkan. Dan anak sebagai individu, istilah individu berasal dari individual yang berati tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sehingga organ tubuh yang terpisah-pisah tidak bisa dikatakan anak.
2. Sebagai suatu totalitas keseluruhan aspek yang terdapat dalam diri anak saling terjalin dan keterkaitan secara integrasi saling terjalin dan memberikan dukungan fungsional satu sama lain. Misal, anak yang sedang dimarahi oleh orang tuanya bisa tidak selera makan.
3. Anak berbeda dengan orang dewasa bukan sekedar secara fisik tetapi keseluruhan. Perbedaan ini antara lain :
a. Secara fisik anak sedang mengalami pertumbuhan yang pesat. Sedangkan fisik orang dewasa sudah tidak berkembang lagi.
b. Pola pikir anak bersifat ego sedangkan orang dewasa sudah mampu berpikir empatik dan sosial.
c. Daya pikir anak terbatas pada yang konkrit sedangkan orang dewasa mampu berpikir abstrak dan unuversal.
Jadi pengertian anak sebagai suatu totalitas adalah sebagai suatu organisme atau individu yang merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi dari keseluruhan organ fisik dan aspek psikis yang terdapat dalam dirinya dan aspek tersebut saling terjalin satu sama lainnya.
C. Perkembangan sebagai Proses Holostik Seluruh Aspek Perkembangan
Perkembangan sebagai proses holistik seluruh aspek perkembangan adalah perkembangan itu terjadi tidak hanya dalam aspek tertentu melainkan keseluruhan aspek yang saling terjalin (interwoven) satu sama lain. Secara garis besar proses perkembangan individu dikelompokkan menjadi 3 domain, yaitu proses biologis, kognitif, dan psikososial (Santrock dan Yussen :1992; Saifert dan Hulfnung:1991).
Proses-proses biologis mencakup perubahan-perubahan dalam tubuh individu, seperti pertumbuhan otak, otot, sistem syaraf, struktur tulang, hormon, organ-organ indrawi dan sejenisnya kemudian seperti ketrampilan motorik, perkembangan seksual juga termasuk di dalam perkembangan biologis. Perubahan dalam kemampuan fisik, seperti perubahan penglihatan, kekuatan otot, perubahan fisik karena sakit, kecelakaan, peristiwa-peristiwa khusus lainnya tidak termasuk di dalamnya.
Proses kognitif melibatkan perubahan dalam kemampuan pola pikir, kemahiran berbahasam dan cara individu memperoleh pengetahuan dari lingkungan, seperti mengamati dan mengklasifikasikan benda-benda, menyatukan beberapa kata menjadi satu kalimat, menghafal sajak atau doa, memecahkan soal, dan sebagainya.
Proses-proses perkembangan psikososial melibatkan perubahan-perubahan dalam aspek perasaan, emosi dan kepribadian individu serta cara yang bersangkutan berhubungan dengan orang lain. Seperti berhubungan dengan anggota keluarga, teman sebaya, guru dan lainnya dapat dikelompokkan dalam domain perkembangan ini.
Ketiga proses domain seperti tersebut di atas saling mempengaruhi, yaitu : proses perkembangan biologis mempengaruhi proses perkembangan kognitif, proses erkembangan kognitif mempoengaruhi proses perkembangan psikososial, proses perkembangan psikososial mempengaruhi pertumbuhan biologis, dan sebaliknya. Contoh :Anak yang mengalami kelaian dalam urgan suara dapat mengalami keterlambatan bahasanya.
Sesuai pnjelasan di atas maka yang dimaksud dengan perkembangan sebagai proses holistik seluruh aspek perkembangan adalah bahwa proses-proses perkembangan antara proses-proses perkembangan biologis, kognitif, psikososial adalah saling mempengaruhi satu sama lain tidak bisa proses perkembangan dari tiga domain di atas itu tidak saling mempengaruhi.
D. Pentingnya Kematangan dan Pengalaman
Ada dua pandangan yang bebeda dari para ahli psikologi terhadap pentingnya kematangan dan pengalaman. Sebagian para ahli psikologi yang menekankan kematangan atau pembawaan sebagai unsur yang mempengaruhi perkembangan anak, sehingga dianggap unsur yang paling penting. Individu berkembang dalam cara terpola sedara genetik kecuali terganggu atau terhambat oleh faktor lingkungan yang bersifat merusak. Contoh : Individu akan berkembang secara terpola, seperti orang duduk sebelum berjalan, berjalan sebelum bicara, mencapai puncak kekuatan fisik pada akhir masa remaja.
Sebagian para ahli mengklaim pengalaman-pengalaman sebagai faktor yang paling penting bagi perkembangan anak. Unsur genetik individu sekedar warisan potensi dasar. Untuk tumbuh dan berkembang tergantung pada makanan, gizi, perawatan medis, latihan, pendidikan yang diberikan oleh lngkungan, sehingga lingkungn dipandang sbagi faktor yang paling penting bagi perkembangan. Contoh : Anak-anak yang gizinya cukup pertumbuhan badannya akan lebih cepat dibanding yang kurang gizi.
Ada sebagian para ahli selain tersebut di atas berpenapat hampir semua kualitas fisik dan psikisindividu merupakan hasil dari pengaruh pembawaan dan lingkungan. Misalnya, tinggi badan anak tergantung pada rancangan genetik yang diturunkan dari orang tuanya di samping tergantung kepada gizi, latihan-latihan yang diperoleh pada saat pertumbuhan (lingkungan).
Perkembangan kognisi anak tergantung pada taraf intelegensi yang dimilikinya (pembawaan). Di samping tergantung pula pada kualitas pengalaman belajar yang diperoleh (lingkungan)., anak juga secara biologis sudah terprogram untuk belajar bahasa (lingkungan).
Dari pengertian di atas, maka antara faktor kematangan dan pengalaman keduanya penting.
E. Kontinuitas dan Diskontinuitas dalam Perkembangan Anak
Ada perdebatan oleh para ahli tentang kontinuitas dan diskontinuitas dalam perkembangan. Para ahli yang menekankan unsur kematangan (pembawaan) menganggap perkembangan sebagai serangkaian tahap yang berbeda (diskontinuitas). Para akhli perkembangan yang menekankan pada unsur pengalaman (lingkungan) menjelaskan bahwa perkembangansebagai proses sinambung (kontinuitas).
Contoh dari Kontinuitas yaitu perkembangan bahasa anak. Pada awalmya anak hanya bisa mengucapkan suatu suku kata, kemudian satu kata, dua kata, tiga kata, dan seterusnya. Kata pertama yang diucapkan oleh anak merupakan hasil akumulasi dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Jadi unsur-unsur yang sudah ada dan lebih sederhana secara esensial mengalami perubahan dengan unsur-unsur baru sehingga menghasilkan kemampuan dan perilaku yang lebih kompleks (perubahan kuantitatif).
Contoh dari Diskontinuitas yaitu pada tahapan-tahapan perkembangan berpikir anak tidak hanya menggambarkan kemampuan meningkat dalam berpikir, tetapi ada perbedaan-perbedaan kualitatif diantada tahap-tahap tersebut.
F. Perbedaan Perkembangan Biologis dan Perseptual Anak
Unsur biologis an perseptual merupakan salah satu aspek perkembangan anak yang cukup eensial untuk diperhatikan.
Perbedaan :
a. Perkembangan biologis adalah perkembangan yang menyangkut perkembangan fisik , antara lain : tinggi dan berat badan, proporsi dan bentuk tubuh, pertumbuhan otak dan sistem syaraf, ketrampilan motorik.
b. Perkembangan perseptual adalah merupakan proses pengenalan individu terhadap lingkngannya. Semua informasi tentang lingkungan sampai ke individu melalui alat-alat indra yang kemudian diteruskan melalui syaraf sensori ke bagian otak, seperti : penglihatan melalui inra mata, pendengaran melalui indra telinga, sentuhan melalui kulit, dan penciuman melalui hidung.
G. Perbedaan Faktor Heriditas dan Faktor Lingkungan dalam Perkembangan Anak
Ada dua faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan individu yaitu faktor yang bersifat alam. Faktor ini diwariskan (endowment) orang tua dan faktor lingkungan (environment) sebagai kondisi atau pengalaman-pengalaman interaksional yang memingkinkan berlangsungnya proses interaksional.
Faktor heriditas; bahwa prinsip kualisasi menjelaskan bagaimana gen-gen (heriditas) mempengaruhi perkembangan yaitu prinsip kaualisasi rentan reaksi.
Prinsip kaualisasi menjelaskan bagaimana gen-gen secara kuat mampu mengarahkan dan membatasi perkembangan dan membatasi perkembangan dalam pengaruh lingkungan. Semakin kuat suatu predisposisi genetika maka akan semakin tahan terhadap pengaruh lingkungan. Contoh : Tahap-tahap perkembangan perseptual bayi yang normal (menete, bergulir, duduk, merangkak, berjalan) secara kuat dikaualisasi dan dapat diprediksi dimanapun bayi dibesarkan. Pada sisi lain banyak karakteristik-karakteristik perkembangan penting lainnya seperti (kepribadian, tempramen, dan fungsi intelektual) yang tampak kurang dikaualisasi dan lebih banyak rentan teradap pengaruh lingkungan.
Prinsip rentan reaksi menjelaskan bahwa karakteristik-karakteristik aktual yang dapat dimiliki seseorang sebenarnya terbatasi oleh potensi genotipnya. Lingkungan tidak akan bisa membuat seseorang mencapai suatu peformans akan karakteristik tertentu di luar batas-batas potensi genotip yang dimiliki oleh orang tersebut.
Faktor lingkungan; Pada prinsip genotif-fenotif ada peluang bagi lingkungan untuk mempengaruhi perkembangan individu. Terjadinya perbedaan potensi yang dimiliki dengan prestasi yang sebenarnya dicapai oleh seseorang menggambarkan bahwa unsur lingkungan ikut bermain dalam mengarahkan perkembangan individu. Interaksi pengaruh genetika dan lingkungan bisa terjadi dalam hubungan yang aktif atau sebaliknya.
H. Faktor Perkembangan dalam Pembelajaran
Pada masa usia SD, perkembangan fisik terus berlangsung dan perkembangan perseptual terus mengalami penajaman dan penghalusan. Kita ketahui bahwa perkembangan biologis dan perseptual anak memiliki keterjalinan dengan aspek-aspek perkembangan lainnya. Permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam perkembangan fisik dan perseptual anak bisa berdampak negatif terhadap aspek-aspek perkembangan lainnya. Untuk itu pendidik harus memberikan perhatian cukup terhadap aspek perkembangan fisik dan perseptual anak. Kita harus memahami karakteristik perkembangan fisik anak serta faktor-faktor yang mempengaruhi dan konsekuensi-konsekuensi yang dapat ditimbulkannya, sehingga membawa beberapa implikasi praktis bagi penyelenggaraan pendidikan di SD. Implikasi-implikasi tersebut berkenaan dengan penyelenggaraan pembelajaran umum, seperti pemeliharaan kesehatan dan nutrisi anak, pemdidikan jasmani dan kesehatan dan menciptakan lingkungan sehat dan pembiasaan berperilaku sehat.
Anak usia SD sudah lebih mampu mengontrol tubuhnya sehingga anak SD dapat memberikan perhatian yang lebih terhadap kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Namun kita ketahui bahwa kondisi mereka masih jauh dari matang dan masih terus berkembang, perseptualnya juga berkembang dan mengalami penajaman dan penghalusan. Aspek-aspek perseptual ini akan berkembang dengan baik kalau dirangsang dan difungsikan melalui interaksi dengan lingkungan. Kebutuhan tersebut bisa dilakukan hanya melalui penjaskes seminggu sekali. Untuk itu perlu suatu pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan fisik.
Dalam hal ini untuk pembelajaran di SD perlu dilaksanakan pembelajaran yang “hidup”, yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk memfungsikan unsur-unsur fisik dan aspek-aspek perseptualnya.
Cara pembelajarannya:
1. Programnya disusun secara fleksibel dan tidak kaku serta memperhatikan perbedaan individual anak.
2. Tidak dilakukan secara monoton dan verbalistik tetapi disajikan secara fariatif melalui banyak aktivitas, seperti eksperimen, praktik, observasi langsung, permainan dan sejenisnya.
3. Menggunakan/melibatkan penggunaan berbagai media dan sumber belajar sehingga anak terlibat secara penuh dengan menggunakan berbagai proses mental dan spiritual.
Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/22/pemahaman-konseptual-tentang-perkembangan-dan-cara-belajar-anak-sd-oleh-mahasiswa-pgsd-sangat-diperlukan-ppd-kd1/
Sebagai tenaga pendidik di Sekolah Dasar adalah tidak mudah karena yang dihadapi adalah anak-anak yang masih labil atau rentang usia. Pada usia anak-anak SD adalah usia-usia dimana anak-anak sedang mengalami proses perkembangan, pertumbuhan, dan perubahan baik itu fisik, psikis, struktur maupun fungsi.
Pemahaman tentang konseptual tentang perkembangan dan cara belajar anak SD oleh mahasiswa PGSD adalah sangat penting karena mahasiswa PGSD nantinya akan terjun mengabdi kepada bangsa dan negara sebagai pendidik di Sekolah Dasar.
Sebagai tenaga pendidik di Sekolah Dasar adalah tidak mudah karena yang dihadapi adalah anak-anak yang masih labil atau rentang usia. Pada usia anak-anak SD adalah usia-usia dimana anak-anak sedang mengalami proses perkembangan, pertumbuhan, dan perubahan baik itu fisik, psikis, struktur maupun fungsi.
Perlu diketahui pula bahwa secara fisik anak pada usia SD memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan kondisi sebelum dan sesudahnya. Karakter perkembangan fisik ini perlu dipelajari karena akan memiliki implikasi tertentu bagi penyenlenggara pendidikan. Dalam hal ini diasumsikan bahwaaktivitas-aktivitas termasuk aktivitas biologis dan aktivitas-aktivitas mental lainnya banyak dipengaruhi oleh kondisi fsiknya dan pertumbuhan fisiknya dapat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan.
Banyak sekali perkembangan-perkembangan yang dialami oleh anak usia SD yang perlu dipahami oleh calon pendidik Sekolah Dasar sehingga nantinya para pendidik dapat mengembangkan atau dapat secara proposional dalam memberikan pelajaran atau kegiatan-kegiatan terhadap anak didiknya sehingga anak didiknya dapat dengan mudah untuk menerimanya. Untuk itu para calon pendidik Sekolah Dasar sangat perlu memahami tentang perkembangan dan cara belajar anak SD.
Sudah barang tentu upaya untuk mempelajari tentang perkembangan dan cara belajar anak SD tidak dapat secara sepotong-sepotong tetapi harus dipahami secara keseluruhan.
Pertama kita harus memahami konsep dasar :
1. Siapa itu anak SD dan bagaimana mereka berkembang ? Ini mencakup pemahaman tentang karakteristik perkembangan anak usia SD dalam berbagai aspek-aspek biologis, kognitif, bahasa dan psikososial.
2. Memahami cara belajar anak. Aspek ini termasuk pemahaman tentang prinsip-prinsip belajar anak, proses psikososial yang terjadi dalam belajar anak.
Dengan memahami konseptual di atas akan dapat dijadikan kerangka berpikir dalam memahami praktik dan masalah-masalah pendidikan di SD dan dapat mengaplikasikan pemahaman tersebut dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar yang berorientasi perkembangan di SD.
Sebagaimana penjelasan di atas bahwa untuk mempelajari perkembangan dan cara berpikir anak SD tidaklah sepotong-sepotong, maka untuk pemahaman itu diawali dari perkembangan anak sejak dalam kandungan.
Menyadari bahwa mahasiswa PGSD adalah mahasiswa yang dipersiapkan menjadi calon guru Sekolah Dasar ( SD ), sudah barang tentu harus mempunyai kemampuan untuk memahami konseptual tentang perkembangan dan cara berpikir anak SD.
Dengan memahami konseptual di atas para guru nantinya diharapkan dapat mengaplikasikan pemahaman tersebut dalam menyelenggarakan proses pendidikan. Namun perlu diketahui bahwa untuk memahami konseptual tentang perkembangan dan cara berpikir anak SD terlebih dahulu perlu memahami konsep-konsep pokok perkembangan sehingga akan memiliki kerangka dasar wawasan yang dapat membantu dalam memahami pembahasan-pembahasan selanjutnya.
A. Perbedaan antara Perkembangan dan Pertumbuhan dalam Perkembangan Anak Didik
Untuk membedakan perkembangan dibanding dengan pertumbuhan maka diperlukan penjelasan dari awalnya terbentuknya anak manusia adalah dari dua sel dasar yaitu sel telur dan sperma kemudian organisme berubah dan berkembang. Dua sel tersebut kemudian membelah diri dan berdiferensi untuk menghasilkan tulang, syaraf, otot, usus, otak, dan bagian-bagian organ lainnya. Setelah kurang lebih 9 bulan 10 hari dalam kandungan ibu organisme yang baru tumbuh itu akhirnya menjadi bayi manusia yang sempurna dan lahir ke dunia. Pada saat lahir hanya mempunyai ketrampilan hidup yang minimal, bernapas, menggerakan tubuh, menangis dan menyusu. Melalui interaksi dengan lingkungan (orang tua, saudara, orang dewasa lain dan obyek-obyek yang ada di sekitarnya) bayi akan terus lebih menyempurnakan diri. Bayi terus mengalami perubahan fisik baik dalam ukuran maupun proporsinya. Berat badan, tinggi badan terus bertambah. Kepala, badan, kaki, tangan, dan organ-organ lainnya terus berubah menhadi seimbang. Perilaku dan ketrampilan bayi pun semakin beraneka. Mulai dari berbaring, bergulir, menelungkup, duduk merangkak, berdiri, berjalan, dan akhirnya berlari ini adalah merupakan proses perubahan yang dialami oleh bayi yang disebut dengan perkembangan (development).
Pengertian Perkembangan
Pengertian perkembangan di sini adalah pola perubahan individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat (Santrock dan Yussen:1992). Namun tidak semua perubahan yang dialami organisme atau individu itu merupakan perkembangan. Perubahan dalam perkembangan dimaksud dapat terjadi karena belajar, faktor peristiwa, dan penggunaan obat.
Perubahan dalam arti perkembangan adalah berakar dari unsur biologis (Bjorklund dan Bjorklund:1992). Pengalaman-pengalaman atau aktivitas-aktivitas khusus anak dapat menimbulkan perubahan diri yang bersangkutan, misalnya anak berlatih menari jadi panda menari. Ini bukan merupakan perkembangan melainkan perubahan dalam arti belajar. Perubahan dalam arti perkembangan lebih berkaitan dengan fungsi waktu dan kematangan biologis dan terhadi pada periode yang lama dan bersifat umum tidak terkait dengan peristiwa dan pengalaman khusus tertentu namun pengalaman belajar juga akan mempengaruhi perkembangan yang bersangkutan.
Perkembangan dapat mencakup perubahan baik dalam struktur maupun fungsi (Bjorklund dan Bjorklund:1992) atau perubahan fisik maupun psikis (Abu Syamsudin Makmun:1996).
Perubahan dalam arti perkembangan bersifat terpola. Perkembangan juga bersifat unik bagi setiap individu. Perubahan dalam arti perkembangan terjadi secara bertahap. Perubahan dalam arti perkembangan dapat berlangsung sepanjang hayat. Perkembangan dapat didefinisikan pola perubahan organisme (individu) baik dalam struktur atau fungsi (fisik maupun psikis) yang terjadi secara teratur dan berorganisasi serta berlangsung sepanjang hayat.
Pengertian Pertumbuhan
Yang dimaksud dengan pertumbuhan di sini adalah merupakan pola perubahan yang dialami oleh individu. Pertumbuhan ini dimaksudkan sebagai perubahan dalam aspek hasmaniah seperti berubahnya struktur tulang, tinggi dan berat badan, proporsi badan, dan sebagainya. Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif dan terbatas pada pola perubahan fisik yang dialami individu sebagai hasil proses pematangan.
Menurut Witherington dan Hurlock (Abu Syamsudin Makmun:1996) dapat pula mencakup perubahan secara psikis kalau perubahan tersebut berupa munculnya suatu fungsi yang baru, seperti munculnya kemampuan berpikir simbolik, munculnya kemampuan berpikir abstrak, munculnya perasaan birahi terhadap lawan jenis.
Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan tercakup dalam pengertian perkembangan. Namun tidak setiap perubahan dalam arti perkembangan merupakan pertumbuhan. Pertumbuhan mencakup pada perubahan-perubahan yang bersifat evolusi (menuju ke arah yang lebih sempurna). Sedangkan perkembangan dapat pula mencakup perubahan-perubahan yang bersifat evolusi (penurunan dan perubahan menuju ke arah kematian).
B. Anak sebagai suatu Totalitas
Anak sebagai suatu totalitas ada tiga pengertian :
1. Anak dipandang sebagai makhluk hidup yang merupakan satu kesatuan dari keseluruhan aspek yang terdapat dalam dirinya. ini berarti bahwa keseluruhan aspek fisik dan psikis tak dapat dipisahkan. Dan anak sebagai individu, istilah individu berasal dari individual yang berati tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sehingga organ tubuh yang terpisah-pisah tidak bisa dikatakan anak.
2. Sebagai suatu totalitas keseluruhan aspek yang terdapat dalam diri anak saling terjalin dan keterkaitan secara integrasi saling terjalin dan memberikan dukungan fungsional satu sama lain. Misal, anak yang sedang dimarahi oleh orang tuanya bisa tidak selera makan.
3. Anak berbeda dengan orang dewasa bukan sekedar secara fisik tetapi keseluruhan. Perbedaan ini antara lain :
a. Secara fisik anak sedang mengalami pertumbuhan yang pesat. Sedangkan fisik orang dewasa sudah tidak berkembang lagi.
b. Pola pikir anak bersifat ego sedangkan orang dewasa sudah mampu berpikir empatik dan sosial.
c. Daya pikir anak terbatas pada yang konkrit sedangkan orang dewasa mampu berpikir abstrak dan unuversal.
Jadi pengertian anak sebagai suatu totalitas adalah sebagai suatu organisme atau individu yang merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi dari keseluruhan organ fisik dan aspek psikis yang terdapat dalam dirinya dan aspek tersebut saling terjalin satu sama lainnya.
C. Perkembangan sebagai Proses Holostik Seluruh Aspek Perkembangan
Perkembangan sebagai proses holistik seluruh aspek perkembangan adalah perkembangan itu terjadi tidak hanya dalam aspek tertentu melainkan keseluruhan aspek yang saling terjalin (interwoven) satu sama lain. Secara garis besar proses perkembangan individu dikelompokkan menjadi 3 domain, yaitu proses biologis, kognitif, dan psikososial (Santrock dan Yussen :1992; Saifert dan Hulfnung:1991).
Proses-proses biologis mencakup perubahan-perubahan dalam tubuh individu, seperti pertumbuhan otak, otot, sistem syaraf, struktur tulang, hormon, organ-organ indrawi dan sejenisnya kemudian seperti ketrampilan motorik, perkembangan seksual juga termasuk di dalam perkembangan biologis. Perubahan dalam kemampuan fisik, seperti perubahan penglihatan, kekuatan otot, perubahan fisik karena sakit, kecelakaan, peristiwa-peristiwa khusus lainnya tidak termasuk di dalamnya.
Proses kognitif melibatkan perubahan dalam kemampuan pola pikir, kemahiran berbahasam dan cara individu memperoleh pengetahuan dari lingkungan, seperti mengamati dan mengklasifikasikan benda-benda, menyatukan beberapa kata menjadi satu kalimat, menghafal sajak atau doa, memecahkan soal, dan sebagainya.
Proses-proses perkembangan psikososial melibatkan perubahan-perubahan dalam aspek perasaan, emosi dan kepribadian individu serta cara yang bersangkutan berhubungan dengan orang lain. Seperti berhubungan dengan anggota keluarga, teman sebaya, guru dan lainnya dapat dikelompokkan dalam domain perkembangan ini.
Ketiga proses domain seperti tersebut di atas saling mempengaruhi, yaitu : proses perkembangan biologis mempengaruhi proses perkembangan kognitif, proses erkembangan kognitif mempoengaruhi proses perkembangan psikososial, proses perkembangan psikososial mempengaruhi pertumbuhan biologis, dan sebaliknya. Contoh :Anak yang mengalami kelaian dalam urgan suara dapat mengalami keterlambatan bahasanya.
Sesuai pnjelasan di atas maka yang dimaksud dengan perkembangan sebagai proses holistik seluruh aspek perkembangan adalah bahwa proses-proses perkembangan antara proses-proses perkembangan biologis, kognitif, psikososial adalah saling mempengaruhi satu sama lain tidak bisa proses perkembangan dari tiga domain di atas itu tidak saling mempengaruhi.
D. Pentingnya Kematangan dan Pengalaman
Ada dua pandangan yang bebeda dari para ahli psikologi terhadap pentingnya kematangan dan pengalaman. Sebagian para ahli psikologi yang menekankan kematangan atau pembawaan sebagai unsur yang mempengaruhi perkembangan anak, sehingga dianggap unsur yang paling penting. Individu berkembang dalam cara terpola sedara genetik kecuali terganggu atau terhambat oleh faktor lingkungan yang bersifat merusak. Contoh : Individu akan berkembang secara terpola, seperti orang duduk sebelum berjalan, berjalan sebelum bicara, mencapai puncak kekuatan fisik pada akhir masa remaja.
Sebagian para ahli mengklaim pengalaman-pengalaman sebagai faktor yang paling penting bagi perkembangan anak. Unsur genetik individu sekedar warisan potensi dasar. Untuk tumbuh dan berkembang tergantung pada makanan, gizi, perawatan medis, latihan, pendidikan yang diberikan oleh lngkungan, sehingga lingkungn dipandang sbagi faktor yang paling penting bagi perkembangan. Contoh : Anak-anak yang gizinya cukup pertumbuhan badannya akan lebih cepat dibanding yang kurang gizi.
Ada sebagian para ahli selain tersebut di atas berpenapat hampir semua kualitas fisik dan psikisindividu merupakan hasil dari pengaruh pembawaan dan lingkungan. Misalnya, tinggi badan anak tergantung pada rancangan genetik yang diturunkan dari orang tuanya di samping tergantung kepada gizi, latihan-latihan yang diperoleh pada saat pertumbuhan (lingkungan).
Perkembangan kognisi anak tergantung pada taraf intelegensi yang dimilikinya (pembawaan). Di samping tergantung pula pada kualitas pengalaman belajar yang diperoleh (lingkungan)., anak juga secara biologis sudah terprogram untuk belajar bahasa (lingkungan).
Dari pengertian di atas, maka antara faktor kematangan dan pengalaman keduanya penting.
E. Kontinuitas dan Diskontinuitas dalam Perkembangan Anak
Ada perdebatan oleh para ahli tentang kontinuitas dan diskontinuitas dalam perkembangan. Para ahli yang menekankan unsur kematangan (pembawaan) menganggap perkembangan sebagai serangkaian tahap yang berbeda (diskontinuitas). Para akhli perkembangan yang menekankan pada unsur pengalaman (lingkungan) menjelaskan bahwa perkembangansebagai proses sinambung (kontinuitas).
Contoh dari Kontinuitas yaitu perkembangan bahasa anak. Pada awalmya anak hanya bisa mengucapkan suatu suku kata, kemudian satu kata, dua kata, tiga kata, dan seterusnya. Kata pertama yang diucapkan oleh anak merupakan hasil akumulasi dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Jadi unsur-unsur yang sudah ada dan lebih sederhana secara esensial mengalami perubahan dengan unsur-unsur baru sehingga menghasilkan kemampuan dan perilaku yang lebih kompleks (perubahan kuantitatif).
Contoh dari Diskontinuitas yaitu pada tahapan-tahapan perkembangan berpikir anak tidak hanya menggambarkan kemampuan meningkat dalam berpikir, tetapi ada perbedaan-perbedaan kualitatif diantada tahap-tahap tersebut.
F. Perbedaan Perkembangan Biologis dan Perseptual Anak
Unsur biologis an perseptual merupakan salah satu aspek perkembangan anak yang cukup eensial untuk diperhatikan.
Perbedaan :
a. Perkembangan biologis adalah perkembangan yang menyangkut perkembangan fisik , antara lain : tinggi dan berat badan, proporsi dan bentuk tubuh, pertumbuhan otak dan sistem syaraf, ketrampilan motorik.
b. Perkembangan perseptual adalah merupakan proses pengenalan individu terhadap lingkngannya. Semua informasi tentang lingkungan sampai ke individu melalui alat-alat indra yang kemudian diteruskan melalui syaraf sensori ke bagian otak, seperti : penglihatan melalui inra mata, pendengaran melalui indra telinga, sentuhan melalui kulit, dan penciuman melalui hidung.
G. Perbedaan Faktor Heriditas dan Faktor Lingkungan dalam Perkembangan Anak
Ada dua faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan individu yaitu faktor yang bersifat alam. Faktor ini diwariskan (endowment) orang tua dan faktor lingkungan (environment) sebagai kondisi atau pengalaman-pengalaman interaksional yang memingkinkan berlangsungnya proses interaksional.
Faktor heriditas; bahwa prinsip kualisasi menjelaskan bagaimana gen-gen (heriditas) mempengaruhi perkembangan yaitu prinsip kaualisasi rentan reaksi.
Prinsip kaualisasi menjelaskan bagaimana gen-gen secara kuat mampu mengarahkan dan membatasi perkembangan dan membatasi perkembangan dalam pengaruh lingkungan. Semakin kuat suatu predisposisi genetika maka akan semakin tahan terhadap pengaruh lingkungan. Contoh : Tahap-tahap perkembangan perseptual bayi yang normal (menete, bergulir, duduk, merangkak, berjalan) secara kuat dikaualisasi dan dapat diprediksi dimanapun bayi dibesarkan. Pada sisi lain banyak karakteristik-karakteristik perkembangan penting lainnya seperti (kepribadian, tempramen, dan fungsi intelektual) yang tampak kurang dikaualisasi dan lebih banyak rentan teradap pengaruh lingkungan.
Prinsip rentan reaksi menjelaskan bahwa karakteristik-karakteristik aktual yang dapat dimiliki seseorang sebenarnya terbatasi oleh potensi genotipnya. Lingkungan tidak akan bisa membuat seseorang mencapai suatu peformans akan karakteristik tertentu di luar batas-batas potensi genotip yang dimiliki oleh orang tersebut.
Faktor lingkungan; Pada prinsip genotif-fenotif ada peluang bagi lingkungan untuk mempengaruhi perkembangan individu. Terjadinya perbedaan potensi yang dimiliki dengan prestasi yang sebenarnya dicapai oleh seseorang menggambarkan bahwa unsur lingkungan ikut bermain dalam mengarahkan perkembangan individu. Interaksi pengaruh genetika dan lingkungan bisa terjadi dalam hubungan yang aktif atau sebaliknya.
H. Faktor Perkembangan dalam Pembelajaran
Pada masa usia SD, perkembangan fisik terus berlangsung dan perkembangan perseptual terus mengalami penajaman dan penghalusan. Kita ketahui bahwa perkembangan biologis dan perseptual anak memiliki keterjalinan dengan aspek-aspek perkembangan lainnya. Permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam perkembangan fisik dan perseptual anak bisa berdampak negatif terhadap aspek-aspek perkembangan lainnya. Untuk itu pendidik harus memberikan perhatian cukup terhadap aspek perkembangan fisik dan perseptual anak. Kita harus memahami karakteristik perkembangan fisik anak serta faktor-faktor yang mempengaruhi dan konsekuensi-konsekuensi yang dapat ditimbulkannya, sehingga membawa beberapa implikasi praktis bagi penyelenggaraan pendidikan di SD. Implikasi-implikasi tersebut berkenaan dengan penyelenggaraan pembelajaran umum, seperti pemeliharaan kesehatan dan nutrisi anak, pemdidikan jasmani dan kesehatan dan menciptakan lingkungan sehat dan pembiasaan berperilaku sehat.
Anak usia SD sudah lebih mampu mengontrol tubuhnya sehingga anak SD dapat memberikan perhatian yang lebih terhadap kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Namun kita ketahui bahwa kondisi mereka masih jauh dari matang dan masih terus berkembang, perseptualnya juga berkembang dan mengalami penajaman dan penghalusan. Aspek-aspek perseptual ini akan berkembang dengan baik kalau dirangsang dan difungsikan melalui interaksi dengan lingkungan. Kebutuhan tersebut bisa dilakukan hanya melalui penjaskes seminggu sekali. Untuk itu perlu suatu pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan fisik.
Dalam hal ini untuk pembelajaran di SD perlu dilaksanakan pembelajaran yang “hidup”, yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk memfungsikan unsur-unsur fisik dan aspek-aspek perseptualnya.
Cara pembelajarannya:
1. Programnya disusun secara fleksibel dan tidak kaku serta memperhatikan perbedaan individual anak.
2. Tidak dilakukan secara monoton dan verbalistik tetapi disajikan secara fariatif melalui banyak aktivitas, seperti eksperimen, praktik, observasi langsung, permainan dan sejenisnya.
3. Menggunakan/melibatkan penggunaan berbagai media dan sumber belajar sehingga anak terlibat secara penuh dengan menggunakan berbagai proses mental dan spiritual.
Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/22/pemahaman-konseptual-tentang-perkembangan-dan-cara-belajar-anak-sd-oleh-mahasiswa-pgsd-sangat-diperlukan-ppd-kd1/
12/01/2011
KEKUATAN DOA DALAM PEMBELAJARAN
Seringkali kali dalam suatu pembelajaran banyak siswa yang tidak berminat terhadap suatu pelajaran tertentu, baik karena sikap gurunya ataupun materi yang disampaikan kurang menarik dan berkenan di hati para siswa.
Ketidaktertarikan siswa ini bisa ditampilkan dalam bentuk pembangkangan, ribut ataupun mungkin dengan cara yang lebih sopan, misalnya dengan bertanya kepada guru tentang “apa manfaatnya bagiku” belajar materi ini. Di tengah semakin ketatnya persaingan di dunia pendidikan dewasa ini, merupakan hal yang wajar apabila para siswa sering khawatir akan mengalami kegagalan atau ketidakberhasilan dalam meraih prestasi belajar atau bahkan takut tinggal kelas.
Oleh: Iwan Gunawan, S.Pd
(Guru SD Salman Al Farisi Bandung)
Seringkali kali dalam suatu pembelajaran banyak siswa yang tidak berminat terhadap suatu pelajaran tertentu, baik karena sikap gurunya ataupun materi yang disampaikan kurang menarik dan berkenan di hati para siswa.
Ketidaktertarikan siswa ini bisa ditampilkan dalam bentuk pembangkangan, ribut ataupun mungkin dengan cara yang lebih sopan, misalnya dengan bertanya kepada guru tentang “apa manfaatnya bagiku” belajar materi ini. Di tengah semakin ketatnya persaingan di dunia pendidikan dewasa ini, merupakan hal yang wajar apabila para siswa sering khawatir akan mengalami kegagalan atau ketidakberhasilan dalam meraih prestasi belajar atau bahkan takut tinggal kelas.
Sepintas, pertanyaan “apa manfaatnya bagiku” ini agak sepele dan tidak perlu pembahasan lebih lanjut. Akan tetapi bagi siswa, hal ini penting untuk diketahui karena menyangkut keaktifan dalam merespon materi pembelajaran, dan rasa aman di dalam mengahadapi masa depan mereka. Sebagaima dikatakan Arden N. Fardesen bahwa hal yang mendorong seorang siswa untuk belajar adalah:
1. Adanya sifat ingin tahu dan menyelidiki dunia yang amat luas.
2. Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju.
3. Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman.
4. Adanya uasaha untuk memperbaiki kegagalaan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koprasi maupun dengan kompetisi.
5. Adanya usaha untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.
6. Adanya ganjaran atau hukuman sebagai konsekwensi dari belajar. (Suryabrata, 1998: 253)
Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya. Hal ini senada dengan pendapat Moh. Surya (1997) tentang peranan guru di sekolah, keluarga dan masyarakat di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang guru harus berperan sebagai :
Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat;
Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya;
Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah;
model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para peserta didik; dan
Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.
Seringkali, kita sebagai guru mengarahkan permasalahan ini kepada siswa sebagai penyebabnya, baik karena siswa yang malas, tidak punya buku paket atau alasan lain. Seorang guru harus senantiasa mau beintrospeksi pada diri sendiri. Betapa banyak guru sering menempatkan dirinya sebagai “dewa kebenaran” yang seolah-olah serba tahu semua keinginan muridnya. Padahal sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.
Guru seringkali terjebak dalam pemecahan masalah “apa manfaatnya bagiku” dengan menggunakan metode-metode yang belum tentu sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Dari beberapa metode dan pendekatan yang digunakan, ada satu hal yang kiranya bisa dijadikan ‘alternative’ untuk memecahkan masalah tersebut terlepas dari cara yang telah dilakukan oleh guru seperti memperjelas tujuan yang ingin dicapai, membangkitkan minat siswa, menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar, memberi pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa, memberikan penilaian, memberi komentar terhadap hasil pekerjaan siswa, dan menciptakan persaingan dan kerja sama yang sehat. Alternatif ini sangat murah dan mudah dilakukan, tanpa perlu mempelajari teori yang rumit yaitu berdoa.
Lalu apa hubungannya antara doa dengan kebermaknaan dalam pembelajaran? Cobalah ingat-ingat kembali oleh kita, berapa kali kita mendoakan siswa-siswa kita dalam belajar atau minimal mendoakan mereka diawal atau diakhir pembelajaran? Walaupun semua guru berbuat demikian, betapa jarang kita mendoakan mereka diawal atau diakhir pembelajaran.
Mungkin kita hanya menutup dan membuka pembelajaran dengan ucapan “selamat pagi anak-anak”, “selamat siang”, “selamat sore” serta ucapan-ucapan lainnya, atau bisa juga langsung ngeloyor meninggalkan anak-anak tanpa sepatah kata pun. Ucapan-ucapan ini bukannya tidak bagus, akan tetapi masih terlalu umum.
Guru adalah orang tua para siswa. Karenanya, Rosulullah melarang para orangtua (guru) mendoakan keburukan bagi anak-didiknya. Mendoakan keburukan kepada anak merupakan hal yang berbahaya. Dapat mengakibatkan kehancuran anak dan masa depannya.
Cobalah tambahkan doa dalam memulai dan mengakhiri pembelajaran kita dengan doa seperti ini “semoga pembelajaran hari ini bisa bermanfaat buat masa depan kalian”, “mudah-mudahan Allah SWT memberikan keberkahan terhadap ilmu yang baru saja kalian pelajari” atau mungkin dengan doa-doa lain yang lebih khusus. Ternyata hal ini sejalan dengan firman Allah “Berdoalah kamu kepadaKu niscaya Aku perkenankan doa permohonan kamu” (QS: Al-Mukmin:60).
Jadi, kalau selama ini anak-anak kita membangkang, ribut dan tidak menyenangi materi yang kita sampaikan, atau ilmu yang disampaikan oleh kita dirasakan tidak bermanfaat oleh anak didik kita, boleh jadi karena kita kurang mendoakan mereka atas ilmu yang telah dipelajarinya. Dengan dilantunkannya doa oleh guru buat murid, maka akan terjalin pola pembelajaran dalam suasana takaful yaitu perasaan senasib dan sepenanggungan; semangat saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran di dalam mencapai tujuan belajar. Dengan melafadzkan do'a pada awal dan akhir pembelajaran akan tercipta check-and-balance dan menjadikan do'a sebagai parameter kesuksesan pembelajaran kita.
Rosulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mendoakan keburukan kepada diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan kepada anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan kepada pelayan-pelayan kalian, dan janganlah mendoakan keburukan kepada harta kalian. Janganlah kalian mendoakan keburukan sebab jika waktu doa kalian bertepatan dengan saat-saat dikabulkannya doa, maka Allah akan mengabulkan doa kalian (yang buruk itu).” (HR. Abu Dawud). Semoga kita termasuk guru-guru yang senantiasa memanfaatkan akal dan mendoakan para siswanya untuk kemajuan pembelajaran. Amiin
sumber: http://keyanaku.blogspot.com/
Ketidaktertarikan siswa ini bisa ditampilkan dalam bentuk pembangkangan, ribut ataupun mungkin dengan cara yang lebih sopan, misalnya dengan bertanya kepada guru tentang “apa manfaatnya bagiku” belajar materi ini. Di tengah semakin ketatnya persaingan di dunia pendidikan dewasa ini, merupakan hal yang wajar apabila para siswa sering khawatir akan mengalami kegagalan atau ketidakberhasilan dalam meraih prestasi belajar atau bahkan takut tinggal kelas.
Oleh: Iwan Gunawan, S.Pd
(Guru SD Salman Al Farisi Bandung)
Seringkali kali dalam suatu pembelajaran banyak siswa yang tidak berminat terhadap suatu pelajaran tertentu, baik karena sikap gurunya ataupun materi yang disampaikan kurang menarik dan berkenan di hati para siswa.
Ketidaktertarikan siswa ini bisa ditampilkan dalam bentuk pembangkangan, ribut ataupun mungkin dengan cara yang lebih sopan, misalnya dengan bertanya kepada guru tentang “apa manfaatnya bagiku” belajar materi ini. Di tengah semakin ketatnya persaingan di dunia pendidikan dewasa ini, merupakan hal yang wajar apabila para siswa sering khawatir akan mengalami kegagalan atau ketidakberhasilan dalam meraih prestasi belajar atau bahkan takut tinggal kelas.
Sepintas, pertanyaan “apa manfaatnya bagiku” ini agak sepele dan tidak perlu pembahasan lebih lanjut. Akan tetapi bagi siswa, hal ini penting untuk diketahui karena menyangkut keaktifan dalam merespon materi pembelajaran, dan rasa aman di dalam mengahadapi masa depan mereka. Sebagaima dikatakan Arden N. Fardesen bahwa hal yang mendorong seorang siswa untuk belajar adalah:
1. Adanya sifat ingin tahu dan menyelidiki dunia yang amat luas.
2. Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju.
3. Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman.
4. Adanya uasaha untuk memperbaiki kegagalaan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koprasi maupun dengan kompetisi.
5. Adanya usaha untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.
6. Adanya ganjaran atau hukuman sebagai konsekwensi dari belajar. (Suryabrata, 1998: 253)
Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya. Hal ini senada dengan pendapat Moh. Surya (1997) tentang peranan guru di sekolah, keluarga dan masyarakat di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang guru harus berperan sebagai :
Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat;
Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya;
Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah;
model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para peserta didik; dan
Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.
Seringkali, kita sebagai guru mengarahkan permasalahan ini kepada siswa sebagai penyebabnya, baik karena siswa yang malas, tidak punya buku paket atau alasan lain. Seorang guru harus senantiasa mau beintrospeksi pada diri sendiri. Betapa banyak guru sering menempatkan dirinya sebagai “dewa kebenaran” yang seolah-olah serba tahu semua keinginan muridnya. Padahal sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.
Guru seringkali terjebak dalam pemecahan masalah “apa manfaatnya bagiku” dengan menggunakan metode-metode yang belum tentu sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Dari beberapa metode dan pendekatan yang digunakan, ada satu hal yang kiranya bisa dijadikan ‘alternative’ untuk memecahkan masalah tersebut terlepas dari cara yang telah dilakukan oleh guru seperti memperjelas tujuan yang ingin dicapai, membangkitkan minat siswa, menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar, memberi pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa, memberikan penilaian, memberi komentar terhadap hasil pekerjaan siswa, dan menciptakan persaingan dan kerja sama yang sehat. Alternatif ini sangat murah dan mudah dilakukan, tanpa perlu mempelajari teori yang rumit yaitu berdoa.
Lalu apa hubungannya antara doa dengan kebermaknaan dalam pembelajaran? Cobalah ingat-ingat kembali oleh kita, berapa kali kita mendoakan siswa-siswa kita dalam belajar atau minimal mendoakan mereka diawal atau diakhir pembelajaran? Walaupun semua guru berbuat demikian, betapa jarang kita mendoakan mereka diawal atau diakhir pembelajaran.
Mungkin kita hanya menutup dan membuka pembelajaran dengan ucapan “selamat pagi anak-anak”, “selamat siang”, “selamat sore” serta ucapan-ucapan lainnya, atau bisa juga langsung ngeloyor meninggalkan anak-anak tanpa sepatah kata pun. Ucapan-ucapan ini bukannya tidak bagus, akan tetapi masih terlalu umum.
Guru adalah orang tua para siswa. Karenanya, Rosulullah melarang para orangtua (guru) mendoakan keburukan bagi anak-didiknya. Mendoakan keburukan kepada anak merupakan hal yang berbahaya. Dapat mengakibatkan kehancuran anak dan masa depannya.
Cobalah tambahkan doa dalam memulai dan mengakhiri pembelajaran kita dengan doa seperti ini “semoga pembelajaran hari ini bisa bermanfaat buat masa depan kalian”, “mudah-mudahan Allah SWT memberikan keberkahan terhadap ilmu yang baru saja kalian pelajari” atau mungkin dengan doa-doa lain yang lebih khusus. Ternyata hal ini sejalan dengan firman Allah “Berdoalah kamu kepadaKu niscaya Aku perkenankan doa permohonan kamu” (QS: Al-Mukmin:60).
Jadi, kalau selama ini anak-anak kita membangkang, ribut dan tidak menyenangi materi yang kita sampaikan, atau ilmu yang disampaikan oleh kita dirasakan tidak bermanfaat oleh anak didik kita, boleh jadi karena kita kurang mendoakan mereka atas ilmu yang telah dipelajarinya. Dengan dilantunkannya doa oleh guru buat murid, maka akan terjalin pola pembelajaran dalam suasana takaful yaitu perasaan senasib dan sepenanggungan; semangat saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran di dalam mencapai tujuan belajar. Dengan melafadzkan do'a pada awal dan akhir pembelajaran akan tercipta check-and-balance dan menjadikan do'a sebagai parameter kesuksesan pembelajaran kita.
Rosulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mendoakan keburukan kepada diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan kepada anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan kepada pelayan-pelayan kalian, dan janganlah mendoakan keburukan kepada harta kalian. Janganlah kalian mendoakan keburukan sebab jika waktu doa kalian bertepatan dengan saat-saat dikabulkannya doa, maka Allah akan mengabulkan doa kalian (yang buruk itu).” (HR. Abu Dawud). Semoga kita termasuk guru-guru yang senantiasa memanfaatkan akal dan mendoakan para siswanya untuk kemajuan pembelajaran. Amiin
sumber: http://keyanaku.blogspot.com/
07/01/2011
PERBAIKI MORAL BANGSA LEWAT SEKOLAH KARAKTER
Pendidikan karakter dan akhlak yang baik selama ini kurang mendapat penekanan dalam system pendidikan di Negara kita. Pendidikan budipekerti hanyalah sebatas teori tanpa adanya refleksi dari pendidikan tersebut. Dampaknya, anak-anak tumbuh menjadi manusia yang tidak memiliki karakter, bahkan lebih buruk lagi menjadi generasi yang tidak bermoral
Dr.Ir. Ratna Megawangi, M.Sc,:
Mitranetra, 24 May 2006
Pendidikan karakter dan akhlak yang baik selama ini kurang mendapat penekanan dalam system pendidikan di Negara kita. Pendidikan budipekerti hanyalah sebatas teori tanpa adanya refleksi dari pendidikan tersebut. Dampaknya, anak-anak tumbuh menjadi manusia yang tidak memiliki karakter, bahkan lebih buruk lagi menjadi generasi yang tidak bermoral. Pentingnya pendidikan karakter sedari dini telah menginspirasi Dr. Ir. Ratna Megawangi M.Sc, mempelopori sebuah system pendidikan yang menekankan pembentukan karakter dan akhlak bagi anak-anak Indonesia, melalui Yayasan Indonesia Heritage Foundation.
"Saya melihat pendidikan budi pekerti yang telah diberikan selama ini, baik dalam pelajaran PMP atau agama tidak berhasil, kalau tidak ingin dikatakan gagal total," ujar Ratna. Padahal, menurut dia, isi dari pelajaran-pelajaran tersebut bagus, namun sayangnya tidak membekas ke dalam prilaku manusianya. Ratna juga menegaskan bahwa untuk menjadi orang yang berkarakter memerlukan proses yang luar biasa, jadi tidak hanya sekedar yang diajarkan di sekolah atau di rumah.
Buruknya kondisi moral masyarakat pada masa reformasi tahun 1998 membuat pendiri dan Direktur Indonesia Heritage Foundation ini merasa prihatin. Pada masa pasca kerusuhan tersebut, Ratna menjelaskan, bangsa ini dipenuhi rasa marah, caci maki, curiga dan sebagainya. Keadaan itu membuat Ratna merasa yakin bahwa ada yang salah dengan pendidikan yang diterapkan selama ini. Sistem itu, menurut Ratna, tidak berhasil menanamkan bagaimana menjadi orang yang berkarakter baik.
Dari situ, pada tahun 2000, Ratna membuat suatu model pendidikan yang menjadi solusi terutama untuk membangun karakter generasi penerus. "Membangun karakter itu harus dimulai sedini mungkin, atau bahkan sejak dilahirkan, dan harus dilakukan secara terus menerus dan terfokus," jelas wanita yang masih aktif sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor ini.
Ratna juga menjelaskan ada beberapa hal yang mendapat penekanan lebih dalam menerapkan model pendidikan karakter. Pertama, "Knowing the good. Untuk membentuk karakter, anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal tersebut. "Selama ini banyak orang yang tahu bahwa ini baik dan itu buruk, namun mereka tidak tahu alasannya apa dan masih terus melakukan hal-hal yang tidak baik, jadi masih ada gap antara knowing dan acting," ungkap Ratna.
Kedua, "Feeling the good". Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. Disini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. "Jika Feeling the good itu sudah tertanam, itu akan menjadi "engine" atau kekuatan luar biasa dari dalam diri seseorang untuk melakukan kebaikan atau mengerem dirinya agar terhindar dari perbuatan negative," jelas Ratna lagi.
Hal ketiga yang coba ditumbuhkan adalah "Acting the good". Pada tahap ini, anak dilatih untuk melakukan perbuatan baik. Tanpa melakukan, apa yang sudah diketahui atau dirasakan oleh seseorang, tidak akan ada artinya. Jadi, selama ini di sekolah, Ratna melanjutkan, anak tidak dilatih untuk melakukan hal-hal yang baik. "Selama ini hanya himbauan-himbauan saja. Sementara, melakukan sesuatu yang baik itu harus dilatih, sehingga hal tersebut akan menjadi bagian dari kehidupan mereka," jelas istri Menteri Komunikasi dan Informatika ini.
Ketiga hal diatas harus dilatih secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan. Jadi, konsep yang dibangun adalah habit of the mind, habit of the heart dan habit of the hands.
Di samping itu, pendidikan karakter juga mengembangkan semua potensi anak sehingga menjadi manusia seutuhnya. Dalam hal ini, perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademiknya maupun segi sosial dan emosinya. Pendidikan selama ini hanya memberi penekanan pada aspek akademik saja dan tidak mengembangkan aspek social, emosi, kreatifitas, dan bahkan motorik. "Anak hanya dipersiapkan untuk dapat nilai bagus, namun mereka tidak dilatih untuk bisa hidup," ujar Ratna.
Dengan konsep tersebut, Indonesia Heritage Foundation membuat suatu model pendidikan yang memberi penekanan pada pembentukan karakter anak. Sekolah tersebut berada di daerah Cimanggis dan terdiri dari tingkat TK dan SD. Sekolah tersebut diperuntukkan bagi anak-anak dari kalangan menengah ke atas.
Namun, untuk menyebar luaskan model pendidikan karakter ini, Ratna juga mengembangkan TK yang berbasis masyarakat yang tersebar dibanyak daerah. TK informal ini diberi nama "Semai Benih Bangsa (SBB)". Sejauh ini, sudah ada sekitar 200 SBB yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Aceh dan Papua.
Model yang digunakan di SBB persis sama dengan yang ada di sekolah karakter. Yang berbeda Cuma fasilitasnya. SBB bisa diadakan di garasi, teras rumah atau di mushalla. "Tujuan kami adalah agar anak-anak yang kurang mampu dapat mengecap pendidikan yang bermutu, sehingga pentingnya memberikan fondasi pada anak sejak dini dapat dilakukan," ungkap Ratna.
Guru-guru yang mengajar di SBB diambil dari masyarakat setempat. Mereka mendapat pelatihan di Jakarta dan ketika kembali mereka dibekali dengan paket atau modul pendidikan beserta alat Bantu yang bisa digunakan. Ratna juga tidak menutup kemungkinan bahwa model yang sudah dibuat ini dapat dicontoh oleh sekolah-sekolah lain.
Dalam berbuat sesuatu, pasti ada harapan yang ingin dicapai . Ratna, dengan pendidikan karakter yang dikembangkannya ini, berharap ingin membentuk bangsa yang berkarakter, "Karakter adalah kunci utama sebuah bangsa untuk bisa maju. Kita kaya dengan resources, sumber daya alam kita banyak sekali, tapi kalau karakter orang-orangnya tidak benar, tidak jujur,tidak mau kerja keras, tidak mau tanggung jawab, tidak mandiri, kita tidak akan maju," tutur Ratna mengakhiri pembicaraannnya.
http://keyanaku.blogspot.com/2008_01_20_archive.html
Dr.Ir. Ratna Megawangi, M.Sc,:
Mitranetra, 24 May 2006
Pendidikan karakter dan akhlak yang baik selama ini kurang mendapat penekanan dalam system pendidikan di Negara kita. Pendidikan budipekerti hanyalah sebatas teori tanpa adanya refleksi dari pendidikan tersebut. Dampaknya, anak-anak tumbuh menjadi manusia yang tidak memiliki karakter, bahkan lebih buruk lagi menjadi generasi yang tidak bermoral. Pentingnya pendidikan karakter sedari dini telah menginspirasi Dr. Ir. Ratna Megawangi M.Sc, mempelopori sebuah system pendidikan yang menekankan pembentukan karakter dan akhlak bagi anak-anak Indonesia, melalui Yayasan Indonesia Heritage Foundation.
"Saya melihat pendidikan budi pekerti yang telah diberikan selama ini, baik dalam pelajaran PMP atau agama tidak berhasil, kalau tidak ingin dikatakan gagal total," ujar Ratna. Padahal, menurut dia, isi dari pelajaran-pelajaran tersebut bagus, namun sayangnya tidak membekas ke dalam prilaku manusianya. Ratna juga menegaskan bahwa untuk menjadi orang yang berkarakter memerlukan proses yang luar biasa, jadi tidak hanya sekedar yang diajarkan di sekolah atau di rumah.
Buruknya kondisi moral masyarakat pada masa reformasi tahun 1998 membuat pendiri dan Direktur Indonesia Heritage Foundation ini merasa prihatin. Pada masa pasca kerusuhan tersebut, Ratna menjelaskan, bangsa ini dipenuhi rasa marah, caci maki, curiga dan sebagainya. Keadaan itu membuat Ratna merasa yakin bahwa ada yang salah dengan pendidikan yang diterapkan selama ini. Sistem itu, menurut Ratna, tidak berhasil menanamkan bagaimana menjadi orang yang berkarakter baik.
Dari situ, pada tahun 2000, Ratna membuat suatu model pendidikan yang menjadi solusi terutama untuk membangun karakter generasi penerus. "Membangun karakter itu harus dimulai sedini mungkin, atau bahkan sejak dilahirkan, dan harus dilakukan secara terus menerus dan terfokus," jelas wanita yang masih aktif sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor ini.
Ratna juga menjelaskan ada beberapa hal yang mendapat penekanan lebih dalam menerapkan model pendidikan karakter. Pertama, "Knowing the good. Untuk membentuk karakter, anak tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal tersebut. "Selama ini banyak orang yang tahu bahwa ini baik dan itu buruk, namun mereka tidak tahu alasannya apa dan masih terus melakukan hal-hal yang tidak baik, jadi masih ada gap antara knowing dan acting," ungkap Ratna.
Kedua, "Feeling the good". Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. Disini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. "Jika Feeling the good itu sudah tertanam, itu akan menjadi "engine" atau kekuatan luar biasa dari dalam diri seseorang untuk melakukan kebaikan atau mengerem dirinya agar terhindar dari perbuatan negative," jelas Ratna lagi.
Hal ketiga yang coba ditumbuhkan adalah "Acting the good". Pada tahap ini, anak dilatih untuk melakukan perbuatan baik. Tanpa melakukan, apa yang sudah diketahui atau dirasakan oleh seseorang, tidak akan ada artinya. Jadi, selama ini di sekolah, Ratna melanjutkan, anak tidak dilatih untuk melakukan hal-hal yang baik. "Selama ini hanya himbauan-himbauan saja. Sementara, melakukan sesuatu yang baik itu harus dilatih, sehingga hal tersebut akan menjadi bagian dari kehidupan mereka," jelas istri Menteri Komunikasi dan Informatika ini.
Ketiga hal diatas harus dilatih secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan. Jadi, konsep yang dibangun adalah habit of the mind, habit of the heart dan habit of the hands.
Di samping itu, pendidikan karakter juga mengembangkan semua potensi anak sehingga menjadi manusia seutuhnya. Dalam hal ini, perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademiknya maupun segi sosial dan emosinya. Pendidikan selama ini hanya memberi penekanan pada aspek akademik saja dan tidak mengembangkan aspek social, emosi, kreatifitas, dan bahkan motorik. "Anak hanya dipersiapkan untuk dapat nilai bagus, namun mereka tidak dilatih untuk bisa hidup," ujar Ratna.
Dengan konsep tersebut, Indonesia Heritage Foundation membuat suatu model pendidikan yang memberi penekanan pada pembentukan karakter anak. Sekolah tersebut berada di daerah Cimanggis dan terdiri dari tingkat TK dan SD. Sekolah tersebut diperuntukkan bagi anak-anak dari kalangan menengah ke atas.
Namun, untuk menyebar luaskan model pendidikan karakter ini, Ratna juga mengembangkan TK yang berbasis masyarakat yang tersebar dibanyak daerah. TK informal ini diberi nama "Semai Benih Bangsa (SBB)". Sejauh ini, sudah ada sekitar 200 SBB yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Aceh dan Papua.
Model yang digunakan di SBB persis sama dengan yang ada di sekolah karakter. Yang berbeda Cuma fasilitasnya. SBB bisa diadakan di garasi, teras rumah atau di mushalla. "Tujuan kami adalah agar anak-anak yang kurang mampu dapat mengecap pendidikan yang bermutu, sehingga pentingnya memberikan fondasi pada anak sejak dini dapat dilakukan," ungkap Ratna.
Guru-guru yang mengajar di SBB diambil dari masyarakat setempat. Mereka mendapat pelatihan di Jakarta dan ketika kembali mereka dibekali dengan paket atau modul pendidikan beserta alat Bantu yang bisa digunakan. Ratna juga tidak menutup kemungkinan bahwa model yang sudah dibuat ini dapat dicontoh oleh sekolah-sekolah lain.
Dalam berbuat sesuatu, pasti ada harapan yang ingin dicapai . Ratna, dengan pendidikan karakter yang dikembangkannya ini, berharap ingin membentuk bangsa yang berkarakter, "Karakter adalah kunci utama sebuah bangsa untuk bisa maju. Kita kaya dengan resources, sumber daya alam kita banyak sekali, tapi kalau karakter orang-orangnya tidak benar, tidak jujur,tidak mau kerja keras, tidak mau tanggung jawab, tidak mandiri, kita tidak akan maju," tutur Ratna mengakhiri pembicaraannnya.
http://keyanaku.blogspot.com/2008_01_20_archive.html
04/01/2011
Beberapa Hal Yang Mungkin Tidak Diketahui Anak Tentang Ayahnya
1. Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun, dan selalu membutuhkan kehadirannya.
2. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.
3. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.
1. Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun, dan selalu membutuhkan kehadirannya.
2. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.
3. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.
4. Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka. kkarena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.
5. Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu), tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.
6. Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti berenang di air setelah ia melepaskannya.
7. Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.
8. Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak baik dan menyayangi.
9. Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup.
10. Ayah benar-benar senang membantu seseorang, tapi ia sukar meminta bantuan.
11. Ayah di dapur. Membuat dan memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?... .mmmmhhh..."tidak terlalu mengecewakan" ^_~
12. Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.
13. Ayah akan sangat senang membelikanmu makanan selepas ia pulang kerja, walaupun dia tak dapat sedikitpun bagian dari makanan itu.
14. Ayah selalu berdoa agar kita menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat, walaupun kita jarang bahkan jarang sekali mendoakannya.
15. Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.
16. Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.
17. Ayah percaya orang harus tepat waktu. Karena itu dia selalu lebih awal menunggumu.
18. Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.
19. Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara.
20. Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar uang sekolahmu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah memikirkannya, bagaimana ia mendapatkannya.
21. Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu.
22. Ayah akan berkata, "Tanyakan saja pada ibumu," ketika ia ingin berkata, "Tidak".
23. Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin.
24. Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepergok menghisap rokok dikamar mandi.
25. Ayah mengatakan, tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan.
26. Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu hal yang baik persis seperti caranya.
27. Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri.
28. Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.
29. Ayah tidak suka meneteskan air mata. Ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis).
30. Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu...ketika kau mimpi akan dibunuh monster...
31. Tapi, ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.
32. Ayah pernah berkata, "Kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkualitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya"
33. Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan, "Jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu, berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu".
34. Dan untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan, "Jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak. Laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu"
35. Ayah bersikeras, bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu.
36. Ayah bisa membuatmu percaya diri, karena ia percaya padamu.
37. Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik.
Sumber :
unikboss.blogspot.com
02/01/2011
Sekolah dan dunia usaha/kerja
Menurut Karsidi (2007:185) disebutkan bahwa: “makin tinggi sekolahnya makin tinggi tingkat penguasaan ilmunya sehingga dipandang memiliki status yang tinggi di masyarakat”. Memperjelas pendapat tersebut juga disebutkan
A. Pendidikan Mengakibatkan Perbedaan Status
Apakah perbedaan status itu? Untuk menjawab hal ini perlu lebih dahulu mengetahui tentang apa yang dimaksud status. Menurut Roucek Weren dalam Ary H. Gunawan, (2000:40) bahwa status sebagai berikut : 1) status ialah posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial; 2) status sosial ialah posisi seseorang dalam masyarakat.
Dari uraian tersebut menggambarkan status sosial antara satu orang dengan orang lain berbeda-beda. Perbedaan ada dalam suatu kelompok sosial tertentu dan perbedaan dalam masyarakat.
Menurut Karsidi (2007:185) disebutkan bahwa: “makin tinggi sekolahnya makin tinggi tingkat penguasaan ilmunya sehingga dipandang memiliki status yang tinggi di masyarakat”. Memperjelas pendapat tersebut juga disebutkan bahwa pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Jenis pekerjaan yang kasar yang berpenghasilan bailk sukar diperoleh tanpa seseorang mampu membaca petunjuk dan mengerjakan soal hitungan yang sederhana. Pada prinsipnya pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan status seseorang.
Dari 3 (tiga) jalur pendidikan mulai dari informal, formal dan non formal,yang lebih menjanjikan adalah, jalur non formal dan formal. Hal ini ditandai dengan adanya orang mendapatkan pekerjaan selain keahlian juga secara formal memiliki ijasah/sertifikat tertentu.
Untuk memperoleh status sosial menurut Ralph Linton dalam Gunawan (2000:42) ada dua macam yaitu : 1) ascribed status, ialah status yang diperoleh dengan sendirinya oleh seorang anggota masyarakat. Misalnya dalam sistem kasta seorang anak sudra, langsung saja sejak lahir ia berstatus kasta sudra.Seorang anak raja langsung menjadi bangsawan; 2) achieved status, ialah
kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha yang disengaja, seperti sarjana
untuk lulusan S1, magister lulusan S2, dan doktor untuk lulusan S3 dan seterusnya.
Menurut pendapat Ralph Linton untuk butir kesatu yaitu ascribed status,bahwa status dapat diperoleh dengan adanya kelahiran seseorang atau dengan sendirinya tergantung dari status orang tua. Sedangkan achieved status dapat diperoleh melalui usaha yaitu dengan menempuh pendidikan tertentu. Lebih lanjut menurut Mayor Polak dalam Gunawan, (2000:42) selain status yang diutarakan Ralph Linton masih ditambah dengan Assigned status yaitu status diberikan kepada seseorang karena jasanya. Misalnya dapat status “putra mahkota” karena berjasa menyembuhkan penyakit sang raja atau seorang yang berjasa karena dapat menghalau dan mengamankan negeri dari kejahatan yang mengancam kesejahteraan negara.
Berkaitan dengan masalah pendidikan yang mengakibatkan perubahan status, maka dari pendapat di atas yang paling cocok adalah achieved status jadi melalui pendidikan seseorang akan mengakibatkan perbedaan status. Apabila pendidikannya tinggi maka statusnya akan tinggi sebaliknya apabila pendidikannya rendah maka statusnya juga akan rendah.
Dampak pendidikan memang besar dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan statusnya. Memperhatikan salah satu fungsi pendidikan adalah proses seleksi terjadi di segala bidang kehidupan baik di sekolah maupun di tempat-tempat kerja. Untuk masuk sekolah terjadi seleksi antara semua calon. Maksud seleksi tentu untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Dalam mencari pekerjaan atau untuk memangku suatu jabatan diperlukan juga seleksi tujuannya untuk memperoleh penghargaan dan dapat meningkatkan tenaga kerja yang cakap dan trampil sesuai dengan jabatan yang akan dipangkunya.
Sekolah juga sebagai lembaga yang berfungsi melatih dan mengembangkan tenaga kerja. Sekolah mengajarkan bagaimana bertanggung jawab terhadap tugas, disiplin sesuai aturan-aturan yang telah ditetapkan. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan dan mengembangkan dirinya sehingga
status sosialnya berubah. Menurut Syuhada (1988:126-131) Kebutuhan masyarakat akan pendidikan sangat penting sehingga dalam mengembangkan pendidikan perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat
Dewasa ini semakin dirasakan bahwa pendidikan belum menjawab kebutuhan masyarakat, sebab upaya-upaya pendidikan belum terkait secara nyata dengan lapangan kerja dalam masyarakat. Para pelajar, mahasiswa memasuki sekolah dan perguruan tinggi tanpa pemahaman yang jelas. Kebanyakan karena ikut-ikutan teman juga keinginan orang tua. Dampak negatif dari kesenjangan itu, banyak/tidak sedikit tamatan sekolah dan perguruan tinggi yang terpaksa menganggur atau memasuki lapangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.Seharusnya diusahakan pendidikan itu dikembangkan ke arah pemenuhan kebutuhan masyarakat. Barangkali pernah mendengar konsep link and match yang dikembangkan dalam sekolah-sekolah kejuruan di mana diharapkan para lulusannya dapat langsung diserap dalam dunia kerja. Sebenarnya ide ini didasarkan kepada pentingnya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
2. Panduan pendidikan dan latihan
Sebagian masyarakat telah menyadari kekurangan dari pendidikan formal di sekolah, di mana masih terdapat kekurangan-kekurangan. Untuk melengkapi kekurangan-kekurangan tersebut perlu ada kegiatan pendidikan dan latihan di masyarakat. Sekarang ini memang sudah banyak pusat-pusat
pendidikan dan latihan akan tetapi out-putnya juga mengalami kondisi seperti dalam pendidikan formal. Mengapa keadaan seperti ini terjadi? Hal tersebut terjadi sebab peserta pendidikan dan latihan tidak memahami kegiatankegiatan yang diikuti. Akibatnya begitu selesai mengikuti kegiatan tidak bisa bekerja. Kondisi seperti ini menimbulkan kekecewaan dalam masyarakat.
Kekecewaan seperti itu dapat dihindari sekurang-kurangnya apabila pihak yang berkompeten baik pemerintah maupun swasta secara terbuka memberikan informasi yang jelas tentang lembaga-lembaga pendidikan dan latihan yang diselenggarakan kepada masyarakat luas baik lewat media massa
maupun lembaga-lembaga pendidikan di bawahnya.
A. Pendidikan Mengakibatkan Perbedaan Status
Apakah perbedaan status itu? Untuk menjawab hal ini perlu lebih dahulu mengetahui tentang apa yang dimaksud status. Menurut Roucek Weren dalam Ary H. Gunawan, (2000:40) bahwa status sebagai berikut : 1) status ialah posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial; 2) status sosial ialah posisi seseorang dalam masyarakat.
Dari uraian tersebut menggambarkan status sosial antara satu orang dengan orang lain berbeda-beda. Perbedaan ada dalam suatu kelompok sosial tertentu dan perbedaan dalam masyarakat.
Menurut Karsidi (2007:185) disebutkan bahwa: “makin tinggi sekolahnya makin tinggi tingkat penguasaan ilmunya sehingga dipandang memiliki status yang tinggi di masyarakat”. Memperjelas pendapat tersebut juga disebutkan bahwa pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Jenis pekerjaan yang kasar yang berpenghasilan bailk sukar diperoleh tanpa seseorang mampu membaca petunjuk dan mengerjakan soal hitungan yang sederhana. Pada prinsipnya pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan status seseorang.
Dari 3 (tiga) jalur pendidikan mulai dari informal, formal dan non formal,yang lebih menjanjikan adalah, jalur non formal dan formal. Hal ini ditandai dengan adanya orang mendapatkan pekerjaan selain keahlian juga secara formal memiliki ijasah/sertifikat tertentu.
Untuk memperoleh status sosial menurut Ralph Linton dalam Gunawan (2000:42) ada dua macam yaitu : 1) ascribed status, ialah status yang diperoleh dengan sendirinya oleh seorang anggota masyarakat. Misalnya dalam sistem kasta seorang anak sudra, langsung saja sejak lahir ia berstatus kasta sudra.Seorang anak raja langsung menjadi bangsawan; 2) achieved status, ialah
kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha yang disengaja, seperti sarjana
untuk lulusan S1, magister lulusan S2, dan doktor untuk lulusan S3 dan seterusnya.
Menurut pendapat Ralph Linton untuk butir kesatu yaitu ascribed status,bahwa status dapat diperoleh dengan adanya kelahiran seseorang atau dengan sendirinya tergantung dari status orang tua. Sedangkan achieved status dapat diperoleh melalui usaha yaitu dengan menempuh pendidikan tertentu. Lebih lanjut menurut Mayor Polak dalam Gunawan, (2000:42) selain status yang diutarakan Ralph Linton masih ditambah dengan Assigned status yaitu status diberikan kepada seseorang karena jasanya. Misalnya dapat status “putra mahkota” karena berjasa menyembuhkan penyakit sang raja atau seorang yang berjasa karena dapat menghalau dan mengamankan negeri dari kejahatan yang mengancam kesejahteraan negara.
Berkaitan dengan masalah pendidikan yang mengakibatkan perubahan status, maka dari pendapat di atas yang paling cocok adalah achieved status jadi melalui pendidikan seseorang akan mengakibatkan perbedaan status. Apabila pendidikannya tinggi maka statusnya akan tinggi sebaliknya apabila pendidikannya rendah maka statusnya juga akan rendah.
Dampak pendidikan memang besar dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan statusnya. Memperhatikan salah satu fungsi pendidikan adalah proses seleksi terjadi di segala bidang kehidupan baik di sekolah maupun di tempat-tempat kerja. Untuk masuk sekolah terjadi seleksi antara semua calon. Maksud seleksi tentu untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Dalam mencari pekerjaan atau untuk memangku suatu jabatan diperlukan juga seleksi tujuannya untuk memperoleh penghargaan dan dapat meningkatkan tenaga kerja yang cakap dan trampil sesuai dengan jabatan yang akan dipangkunya.
Sekolah juga sebagai lembaga yang berfungsi melatih dan mengembangkan tenaga kerja. Sekolah mengajarkan bagaimana bertanggung jawab terhadap tugas, disiplin sesuai aturan-aturan yang telah ditetapkan. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan dan mengembangkan dirinya sehingga
status sosialnya berubah. Menurut Syuhada (1988:126-131) Kebutuhan masyarakat akan pendidikan sangat penting sehingga dalam mengembangkan pendidikan perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat
Dewasa ini semakin dirasakan bahwa pendidikan belum menjawab kebutuhan masyarakat, sebab upaya-upaya pendidikan belum terkait secara nyata dengan lapangan kerja dalam masyarakat. Para pelajar, mahasiswa memasuki sekolah dan perguruan tinggi tanpa pemahaman yang jelas. Kebanyakan karena ikut-ikutan teman juga keinginan orang tua. Dampak negatif dari kesenjangan itu, banyak/tidak sedikit tamatan sekolah dan perguruan tinggi yang terpaksa menganggur atau memasuki lapangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.Seharusnya diusahakan pendidikan itu dikembangkan ke arah pemenuhan kebutuhan masyarakat. Barangkali pernah mendengar konsep link and match yang dikembangkan dalam sekolah-sekolah kejuruan di mana diharapkan para lulusannya dapat langsung diserap dalam dunia kerja. Sebenarnya ide ini didasarkan kepada pentingnya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
2. Panduan pendidikan dan latihan
Sebagian masyarakat telah menyadari kekurangan dari pendidikan formal di sekolah, di mana masih terdapat kekurangan-kekurangan. Untuk melengkapi kekurangan-kekurangan tersebut perlu ada kegiatan pendidikan dan latihan di masyarakat. Sekarang ini memang sudah banyak pusat-pusat
pendidikan dan latihan akan tetapi out-putnya juga mengalami kondisi seperti dalam pendidikan formal. Mengapa keadaan seperti ini terjadi? Hal tersebut terjadi sebab peserta pendidikan dan latihan tidak memahami kegiatankegiatan yang diikuti. Akibatnya begitu selesai mengikuti kegiatan tidak bisa bekerja. Kondisi seperti ini menimbulkan kekecewaan dalam masyarakat.
Kekecewaan seperti itu dapat dihindari sekurang-kurangnya apabila pihak yang berkompeten baik pemerintah maupun swasta secara terbuka memberikan informasi yang jelas tentang lembaga-lembaga pendidikan dan latihan yang diselenggarakan kepada masyarakat luas baik lewat media massa
maupun lembaga-lembaga pendidikan di bawahnya.
21/12/2010
Mengenali Kesulitan Belajar pada Anak
Mengenali kesulitan belajar (learning disability) bagi para orangtua maupun guru-guru kadang-kadang tidaklah mudah karena membutuhkan pengamatan perilaku dan cara belajar sehari-hari yang ditunjukkan anak secara cermat. Gambaran mengenai kesulitan belajar sendiri sangat bervariasi
Mengenali kesulitan belajar (learning disability) bagi para orangtua maupun guru-guru kadang-kadang tidaklah mudah karena membutuhkan pengamatan perilaku dan cara belajar sehari-hari yang ditunjukkan anak secara cermat. Gambaran mengenai kesulitan belajar sendiri sangat bervariasi dari satu anak ke anak lainnya, baik dari jenis maupun tingkat kesulitan belajar yang mereka alami. Kondisi ini seringkali tampak makin jelas ketika anak-anak memasuki usia sekolah dengan kegiatan akademik yang nyata. Hal yang paling nampak adalah pada perbedaan kemampuan membaca, menulis atau matematika sebagai kemampuan yang paling mendasar, yang pada umumnya berjalan lebih lambat dibanding anak lainnya.
Meski demikian, sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diwaspadai oleh para guru dan orangtua untuk mengenali gejala kesulitan belajar ini sejak anak memasuki usia pra-sekolah. Baurnel dan Harvell (2004), memberikan beberapa gambaran.
Perkembangan Bahasa yang Lambat
Anak-anak dengan kesulitan belajar pada umumnya memiliki riwayat perkembangan bahasa dan berbicara yang lebih lambat dibanding anak seusianya. Kosa kata yang dimilikinya cenderung terbatas dan lebih sedikit dibanding anak sebayanya, sehingga sering mengalami kesulitan bahkan kurang tepat dalam mengekspresikan apa yang diinginkannya. Tidak jarang mereka juga mengalami kesulitan dalam memahami instruksi yang paling sederhana sekalipun, ataupun memahami beberapa perintah yang diberikan sekaligus.
Rendahnya Koordinasi Motorik
Ada beberapa indikasi ketidakterampilan motorik kasar seperti canggung dalam melompat, mudah jatuh ketika berlari maupun tidak bisa memanjat, dll. Juga ketidakterampilan dalam koordinasi motorik halusnya seperti mengalami kesulitan dalam mengikat tali sepatu, memasukkan kancing baju, kurang terampil dalam menggunakan gunting maupun pensil, dll. Demikian pula dalam mengikuti dan mengenali arah.
Gangguan Pemusatan Perhatian
Rendahnya pemusatan perhatian anak sering nampak dengan mudahnya anak beralih pada satu kegiatan satu ke kegiatan lainnya, sukar menyelesaikan tugas yang sederhana sekalipun karena rentang perhatiannya yang pendek, membutuhkan banyak perhatian dan dukungan dari lingkungan untuk penyelesaian tugas-tugasnya.
Kontrol dan pengorganisasian diri yang buruk sering membuat mereka nampak kurang sabaran (impulsif), mau menangnya sendiri, semau gue dan sulit mengikuti aturan maupun rutinitas, sehingga nampak tidak mampu bertanggung jawab dibanding anak-anak sebayanya.
Usia Sekolah
Pada usia sekolah gambaran kesulitan sekolah ini semakin nyata. Gambaran yang tampak dapat dikelompokkan pada beberapa ciri:
Kekurangan persepsi visual. Kekurangan pada bagian ini dapat dikenali karena anak nampak bermasalah untuk mempelajari abjad dan sering terbalik melihat huruf-huruf tertentu seperti b/d, p/q, m/w maupun angka seperti 2, 3, 4, 5, 7, 9. Konsep membaca, mengeja, dikte dan menghitung mereka nampak lebih lambat dibading anak lain. Ketika diajar membaca mereka cepat bosan, sering menguap dan mengatakan matanya perih untuk melihat huruf.
Kekurangan persepsi visual motor. Lambatnya anak menyalin tulisan dari papan tulis ke bukunya merupakan ciri khas kekurangan pada persepsi visual motor. Akhirnya anak sering ketinggalan dalam mengerjakan tugas dibanding temannya dan prestasi sekolahnya nampak memburuk. Buruknya kualitas tulisan, cenderung tidak rapi dan keluar dari garis, sukar mengikuti garis ketika menggunting merupakan ciri lainnya pada kekurangan bagian ini.
Kekurangan persepsi auditor. Sukar untuk membedakan beberapa huruf yang hampir memiliki kesamaan bunyi seperti b/p, d/t, v/f, lambat dalam menangkap pembiacaraan dalam kecepatan yang normal meskipun dapat memahaminya bila diberikan pengulangan dengan kecepatan yang lebih lambat atau sukar mengenali suara yang umum atau bahkan seringkali didengarnya merupakan ciri pada kurangnya persepsi auditori ini.
Rendahnya kemampuan mengingat. Mereka biasanya mengalami kesulitan untuk mempertahankan apa yang dilihat dan didengarnya dalam waktu yang cukup lama, rendah ingatan jangka panjangnya, yang seringkali bertahan hanyalah ingatan jangka pendeknya, itu pun sering terlupakan ketika ditanyakan kembali di lain hari. Pada akhirnya pengetahuan yang mereka miliki pada umumnya menjadi sangat terbatas. Ini sering sangat menjengkelkan bagi para guru dan orangtua karena apa yang barusan diterangkan dan mampu dihapalkan sudah dilupakannya, yang kemarin diajarkan hari ini sudah tidak mampu diingatnya.
Lambatnya pemahaman konsep. Gambaran tampak pada bagian ini adalah anak tidak mampu ''membaca'' situasi sosial, tidak memahami bahasa tubuh maupun humor. Berhubungan dengan konsep waktu mereka juga biasanya sukar membedakan arti kemarin, tadi, besok, sebelum/sesudah maupun konsep "cepat".
Kekurangan hubungan spasial dan kesadaran tubuh. Gerakan anak yang nampak canggung, mudah terantuk dan jatuh, sukar memahami konsep kiri-kanan, atas-bawah, pertama-terakhir, depan-belakang meruapakan ciri yang paling khas pada aspek ini. Mereka juga sering tersesat dan kebingungan dalam lingkungan yang justru mereka kenal seperti rumah atau sekolah. Sangat ceroboh sehingga sering kehilangan barang seperti pensil, buku, dll. serta sangat berantakan dan tidak tertata rapi merupakan ciri lain yang bisa diamati.
Pada umumnya anak-anak dengan kesulitan belajar ini memiliki taraf kecerdasan normal, bahkan sering di atas normal. Mereka hanya memerlukan cara pembelajaran yang berbeda (learning difference) sesuai dengan perbedaan fungsi otak dan kekurangan yang dimilikinya.
Memeriksakan anak ke seorang ahli perkembangan anak secara multidispliner (dokter anak, psikiater, psikolog, pedagog, dll) merupakan cara untuk melihat kekurangan yang mereka tunjukkan, sehingga dapat mengenali pula gaya belajar anak.
Penanganan terhadap anak-anak dengan kesulitan belajar ini sebenarnya bisa dimulai dengan mengenali kelebihan yang mereka miliki untuk mengatasi kekurangannya. Ini bisa dihubungkan dengan konsep multiple intelligence, mereka akan tetap dapat berhasil pada bidang-bidang khusus yang menjadi kekuatan mereka. Pemanfaatan gaya belajar yang menjadi unggulan mereka akan sangat membantu mengoptimalkan potensi dan mengatasi kelemahan yang mereka miliki. Banyak tokoh terkenal yang pada masa kecilnya mengalami kesulitan belajar namun tetap berhasil di kemudian hari seperti Albert Einstein, Roosevelt, Sydney Sheldon.
Saran buat Orangtua dan Guru
- Terimalah keunikan anak dengan kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki.
- Bantu dan beri dukungan anak untuk mengenali kelebihan dan menerima kekurangan mereka. Bantu membuat strategi belajar untuk mengatasi kekurangan mereka, mintalah bantuan pada Remedial Terapist untuk membuat program cara pembelajaran di rumah. Berikan alat-alat bantu dan peraga sehingga anak mampu menyentuh, melihat dan mendengarnya serta menghubungkan dengan konsep yang dipelajari.
- Ciptakan suasana belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Dampingi anak ketika belajar dan mengerjakan PR. Dengan pemahaman akan kekurangan mereka dan mengingat kelebihan yang mereka miliki akan meningkatkan kadar kesabaran para orangtua, demikian pula guru.
- Bekerja samalah dengan guru, sehingga ada kesinambungan dalam pengamatan perkembangan anak serta dukungan moral dan emosional buat anak terutama saat di sekolah.
- Bersikap lebih kreatif bagi guru yang bersangkutan dengan menganggap anak sebagai ''ujian'' peningkatan kualitas mengajar yang dimiliki, bukan gangguan dalam proses belajar-mengajar. Berkonsultasi dengan guru lain yang lebih berpengalaman atau ahli lain untuk membuat program pembelajaran khusus atau modifikasi tes sesuai kelebihan dan keterbatasan anak.
- Berilah pujian ketika anak berhasil melakukan tugasnya, bantu dan dukung untuk mengembankan kepercayaan diri dan kemandirian dalam belajar.
Mengenali kesulitan belajar (learning disability) bagi para orangtua maupun guru-guru kadang-kadang tidaklah mudah karena membutuhkan pengamatan perilaku dan cara belajar sehari-hari yang ditunjukkan anak secara cermat. Gambaran mengenai kesulitan belajar sendiri sangat bervariasi dari satu anak ke anak lainnya, baik dari jenis maupun tingkat kesulitan belajar yang mereka alami. Kondisi ini seringkali tampak makin jelas ketika anak-anak memasuki usia sekolah dengan kegiatan akademik yang nyata. Hal yang paling nampak adalah pada perbedaan kemampuan membaca, menulis atau matematika sebagai kemampuan yang paling mendasar, yang pada umumnya berjalan lebih lambat dibanding anak lainnya.
Meski demikian, sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diwaspadai oleh para guru dan orangtua untuk mengenali gejala kesulitan belajar ini sejak anak memasuki usia pra-sekolah. Baurnel dan Harvell (2004), memberikan beberapa gambaran.
Perkembangan Bahasa yang Lambat
Anak-anak dengan kesulitan belajar pada umumnya memiliki riwayat perkembangan bahasa dan berbicara yang lebih lambat dibanding anak seusianya. Kosa kata yang dimilikinya cenderung terbatas dan lebih sedikit dibanding anak sebayanya, sehingga sering mengalami kesulitan bahkan kurang tepat dalam mengekspresikan apa yang diinginkannya. Tidak jarang mereka juga mengalami kesulitan dalam memahami instruksi yang paling sederhana sekalipun, ataupun memahami beberapa perintah yang diberikan sekaligus.
Rendahnya Koordinasi Motorik
Ada beberapa indikasi ketidakterampilan motorik kasar seperti canggung dalam melompat, mudah jatuh ketika berlari maupun tidak bisa memanjat, dll. Juga ketidakterampilan dalam koordinasi motorik halusnya seperti mengalami kesulitan dalam mengikat tali sepatu, memasukkan kancing baju, kurang terampil dalam menggunakan gunting maupun pensil, dll. Demikian pula dalam mengikuti dan mengenali arah.
Gangguan Pemusatan Perhatian
Rendahnya pemusatan perhatian anak sering nampak dengan mudahnya anak beralih pada satu kegiatan satu ke kegiatan lainnya, sukar menyelesaikan tugas yang sederhana sekalipun karena rentang perhatiannya yang pendek, membutuhkan banyak perhatian dan dukungan dari lingkungan untuk penyelesaian tugas-tugasnya.
Kontrol dan pengorganisasian diri yang buruk sering membuat mereka nampak kurang sabaran (impulsif), mau menangnya sendiri, semau gue dan sulit mengikuti aturan maupun rutinitas, sehingga nampak tidak mampu bertanggung jawab dibanding anak-anak sebayanya.
Usia Sekolah
Pada usia sekolah gambaran kesulitan sekolah ini semakin nyata. Gambaran yang tampak dapat dikelompokkan pada beberapa ciri:
Kekurangan persepsi visual. Kekurangan pada bagian ini dapat dikenali karena anak nampak bermasalah untuk mempelajari abjad dan sering terbalik melihat huruf-huruf tertentu seperti b/d, p/q, m/w maupun angka seperti 2, 3, 4, 5, 7, 9. Konsep membaca, mengeja, dikte dan menghitung mereka nampak lebih lambat dibading anak lain. Ketika diajar membaca mereka cepat bosan, sering menguap dan mengatakan matanya perih untuk melihat huruf.
Kekurangan persepsi visual motor. Lambatnya anak menyalin tulisan dari papan tulis ke bukunya merupakan ciri khas kekurangan pada persepsi visual motor. Akhirnya anak sering ketinggalan dalam mengerjakan tugas dibanding temannya dan prestasi sekolahnya nampak memburuk. Buruknya kualitas tulisan, cenderung tidak rapi dan keluar dari garis, sukar mengikuti garis ketika menggunting merupakan ciri lainnya pada kekurangan bagian ini.
Kekurangan persepsi auditor. Sukar untuk membedakan beberapa huruf yang hampir memiliki kesamaan bunyi seperti b/p, d/t, v/f, lambat dalam menangkap pembiacaraan dalam kecepatan yang normal meskipun dapat memahaminya bila diberikan pengulangan dengan kecepatan yang lebih lambat atau sukar mengenali suara yang umum atau bahkan seringkali didengarnya merupakan ciri pada kurangnya persepsi auditori ini.
Rendahnya kemampuan mengingat. Mereka biasanya mengalami kesulitan untuk mempertahankan apa yang dilihat dan didengarnya dalam waktu yang cukup lama, rendah ingatan jangka panjangnya, yang seringkali bertahan hanyalah ingatan jangka pendeknya, itu pun sering terlupakan ketika ditanyakan kembali di lain hari. Pada akhirnya pengetahuan yang mereka miliki pada umumnya menjadi sangat terbatas. Ini sering sangat menjengkelkan bagi para guru dan orangtua karena apa yang barusan diterangkan dan mampu dihapalkan sudah dilupakannya, yang kemarin diajarkan hari ini sudah tidak mampu diingatnya.
Lambatnya pemahaman konsep. Gambaran tampak pada bagian ini adalah anak tidak mampu ''membaca'' situasi sosial, tidak memahami bahasa tubuh maupun humor. Berhubungan dengan konsep waktu mereka juga biasanya sukar membedakan arti kemarin, tadi, besok, sebelum/sesudah maupun konsep "cepat".
Kekurangan hubungan spasial dan kesadaran tubuh. Gerakan anak yang nampak canggung, mudah terantuk dan jatuh, sukar memahami konsep kiri-kanan, atas-bawah, pertama-terakhir, depan-belakang meruapakan ciri yang paling khas pada aspek ini. Mereka juga sering tersesat dan kebingungan dalam lingkungan yang justru mereka kenal seperti rumah atau sekolah. Sangat ceroboh sehingga sering kehilangan barang seperti pensil, buku, dll. serta sangat berantakan dan tidak tertata rapi merupakan ciri lain yang bisa diamati.
Pada umumnya anak-anak dengan kesulitan belajar ini memiliki taraf kecerdasan normal, bahkan sering di atas normal. Mereka hanya memerlukan cara pembelajaran yang berbeda (learning difference) sesuai dengan perbedaan fungsi otak dan kekurangan yang dimilikinya.
Memeriksakan anak ke seorang ahli perkembangan anak secara multidispliner (dokter anak, psikiater, psikolog, pedagog, dll) merupakan cara untuk melihat kekurangan yang mereka tunjukkan, sehingga dapat mengenali pula gaya belajar anak.
Penanganan terhadap anak-anak dengan kesulitan belajar ini sebenarnya bisa dimulai dengan mengenali kelebihan yang mereka miliki untuk mengatasi kekurangannya. Ini bisa dihubungkan dengan konsep multiple intelligence, mereka akan tetap dapat berhasil pada bidang-bidang khusus yang menjadi kekuatan mereka. Pemanfaatan gaya belajar yang menjadi unggulan mereka akan sangat membantu mengoptimalkan potensi dan mengatasi kelemahan yang mereka miliki. Banyak tokoh terkenal yang pada masa kecilnya mengalami kesulitan belajar namun tetap berhasil di kemudian hari seperti Albert Einstein, Roosevelt, Sydney Sheldon.
Saran buat Orangtua dan Guru
- Terimalah keunikan anak dengan kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki.
- Bantu dan beri dukungan anak untuk mengenali kelebihan dan menerima kekurangan mereka. Bantu membuat strategi belajar untuk mengatasi kekurangan mereka, mintalah bantuan pada Remedial Terapist untuk membuat program cara pembelajaran di rumah. Berikan alat-alat bantu dan peraga sehingga anak mampu menyentuh, melihat dan mendengarnya serta menghubungkan dengan konsep yang dipelajari.
- Ciptakan suasana belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Dampingi anak ketika belajar dan mengerjakan PR. Dengan pemahaman akan kekurangan mereka dan mengingat kelebihan yang mereka miliki akan meningkatkan kadar kesabaran para orangtua, demikian pula guru.
- Bekerja samalah dengan guru, sehingga ada kesinambungan dalam pengamatan perkembangan anak serta dukungan moral dan emosional buat anak terutama saat di sekolah.
- Bersikap lebih kreatif bagi guru yang bersangkutan dengan menganggap anak sebagai ''ujian'' peningkatan kualitas mengajar yang dimiliki, bukan gangguan dalam proses belajar-mengajar. Berkonsultasi dengan guru lain yang lebih berpengalaman atau ahli lain untuk membuat program pembelajaran khusus atau modifikasi tes sesuai kelebihan dan keterbatasan anak.
- Berilah pujian ketika anak berhasil melakukan tugasnya, bantu dan dukung untuk mengembankan kepercayaan diri dan kemandirian dalam belajar.
13/12/2010
Bagaimana Proses Belajar Kreatif Ilmuwan
SMA (Sekolah Menengah Atas) adalah sekolah yang sangat banyak dipilih untuk sekolah tingkat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Di sekolah ini (SMA) dan juga di Madrasah Aliyah, jurusan sains dianggap jurusan paling favorit. Mula-mula jurusan ini bernama jurusan paspal, kemudian menjadi IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), kemudian jurusan ini pecah dua menjadi jurusan fisika dan jurusan biologi, kemudian menjadi jurusan IA (Ilmu Alam), ada lagi yang menyebutnya dengan jurusan sains. Bidang studi yang meliputi jurusan ini adalah matematika, biologi, fisika, kimia, dan matematika. Sekarang ke empat bidang studi ini tercakup ke dalam bidang studi yang diuji dalam UN (Ujian Nasional).
SMA (Sekolah Menengah Atas) adalah sekolah yang sangat banyak dipilih untuk sekolah tingkat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Di sekolah ini (SMA) dan juga di Madrasah Aliyah, jurusan sains dianggap jurusan paling favorit. Mula-mula jurusan ini bernama jurusan paspal, kemudian menjadi IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), kemudian jurusan ini pecah dua menjadi jurusan fisika dan jurusan biologi, kemudian menjadi jurusan IA (Ilmu Alam), ada lagi yang menyebutnya dengan jurusan sains. Bidang studi yang meliputi jurusan ini adalah matematika, biologi, fisika, kimia, dan matematika. Sekarang ke empat bidang studi ini tercakup ke dalam bidang studi yang diuji dalam UN (Ujian Nasional).
Alasan mengapa jurusan IPA banyak dipilih (menurut anggapan siswa) karena kemungkinan untuk meraih sukses kuliah di universitas dengan jurusan bergengsi lebih luas. Kemudian, kesempatan untuk meraih sukses dalam karir juga lebih besar. Namun apakah hal ini benar dan apakah mereka telah belajar secara kreatif ?
Menjadi kreatif di zaman modern saat ini sudah menjadi sebuah kewajiban. Suatu negara tentu akan menghadapi banyak masalah jika negara tersebut kurang memberdayakan sumber daya manusianya untuk bisa menjadi kreatif. Menjadi kreatif itu luas maknanya. Kreatif dalam berkarya, kreatif dalam berpikir bahkan berkreatif dalam menyelesaikan masalah.
Dalam belajar sains atau IPA, guru dan siswa seharusnya perlu mengenal latar belakang dari ilmuwan dan bagaimana mereka bisa menciptakan konsep ilmu/ suatu rumus. Dalam realita bahwa umumnya guru dan siswa juga mengenal konsep dan rumus dan proses pembelajaran kerap kali bercorak membahas rumus dan soal-soal saja. Sangat tepat rasanya kalau guru dan siswa juga mengenal proses kreatif para ilmuwan (seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Isaac Newton, Charles Darwin dan lain-lain) dalam menemukan suatu fenomena lewat membaca buku biografi mereka.
1) Einstein, cara berbicaranya pada masa kecil tidak begitu menarik. Kemampuan berbahasa atau berbicaranya sangat lambat. Melihat kondisi itu orang tuanya sangat prihatin sehingga ia berkonsultasi dengan dokter. Karena kemampuan berbicaranya yang lambat membuatnya pernah gagal di sekolah dan kepala sekolah menyarankan agar ia keluar dari sekolah. Tentu saja ia memberontak kepada sekolah yang mengusirnya dan menganggapnya sebagai anak yang sangat bodoh.
Pada masa kecil, Einstein adalah anak yang baik dan ia punya karakter suka menolong, karakter ini membuatnya makin cerdas. Kemampuan berbahasanya memang lebih rendah dibandingkan kemampuan numerika atau matematika. Ia tidak pernah gagal dalam mata pelajaran matematika. Sebelum ia berumur lima belas tahun ia telah menguasai kalkulus diferensial dan integral yang dipelajarinya secara mandiri/ otodidak. Saat di sekolah dasar, dia berada di atas kemampuan rata-rata kelas, namun ia memiliki kegemaran untuk memecahkan masalah rumit dalam aritmatika terapan. Orang tuanya ikut mendukung minat Einstein dalam matematika. Ia membelikan buku-buku teks sehingga ia bisa menguasai pelajaran angka-angka selama liburan musim panas.
2) Thomas Alfa Edison, ia belajar bagaimana cara menemukan lampu. Sebelum lampu pertamanya menyala ia melakukan 5.000 eksperimen yang selalu berakhir dengan kegagalan. Namun cara berpikir yang dimiliki oleh Thomas Alfa Edison sangatlah positif dan tahan banting, ini membawanya kepada kreativitas tingkat tinggi.
3) Isaac Newton, lahir di Woolsthorpe- Lincolnshire,Inggris. Ia adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, alkimiwan, dan teolog yang berasal dari Inggris. Ayahnya yang juga bernama Isaac Newton meninggal tiga bulan sebelum kelahiran Newton. Newton dilahirkan secara prematur; Ketika Newton berumur tiga tahun, ibunya menikah kembali dan meninggalkan Newton di bawah asuhan neneknya.
Newton memulai sekolah saat tinggal bersama neneknya di desa dan kemudian dikirimkan ke sekolah bahasa di daerah Grantham dimana dia akhirnya menjadi anak terpandai di sekolahnya. Saat bersekolah di Grantham dia tinggal di-kost milik apoteker lokal (William Clarke). Sebelum meneruskan kuliah di Universitas Cambridge (usia 19), Newton sempat menjalin kasih dengan adik angkat William Clarke, Anne Storer. Namun Newton memfokuskan dirinya pada pelajaran dan kisah cintanya menjadi semakin tidak menentu/ putus begitu saja.
Keluarganya mengeluarkan Newton dari sekolah dengan alasan agar dia menjadi petani saja, bagaimanapun Newton tidak menyukai pekerjaan barunya. Kepala sekolah King's School kemudian meyakinkan ibunya untuk mengirim Newton kembali ke sekolah sehingga ia dapat menamatkan pendidikannya. Newton dapat menamatkan sekolah pada usia 18 tahun dengan nilai yang memuaskan.
Newton diterima di Trinity College Universitas Cambridge (sebagai mahasiswa yang belajar sambil bekerja untuk mengatasi masalah keuangannya). Pada saat itu, kurikulum universitas didasarkan pada ajaran Aristoteles, namun Newton lebih memilih untuk membaca gagasan-gagasan filsuf modern yang lebih maju seperti Descartes dan astronom seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler. Ia kemudian menemukan teorema binomial umum dan mulai mengembangkan teori matematika yang pada akhirnya berkembang menjadi kalkulus.
4) Charles Darwin lahir tanggal 12 Februari 1809 di Shropshire, Inggris. Ia anak ke lima Robert Waring Darwin. Ia belajar sesuai dengan kurikulum berbahasa Yunani Klasik. Ia tidak memperlihatkan prestasi yang banyak secara akademik. Kemudian ia mengambil jurusan kedokteran tetapi tidak banyak memperoleh kemajuan. Untuk itu ia melakukan usaha lain agar bisa maju. Ayahnya menyarankan Darwin untuk menjadi pendeta dan belajar di Christ's College untuk belajar teologi. Tetapi ia juga tidak memperoleh kemajuan, ia malah senang berburu dan permainan menembak.Ternyata Darwin mempunyai minat dalam mengkoleksi tanaman, serangga, dan benda-benda geologi. Ia tertarik dengan bakat berburu sepupunya William Darwin.
Darwin mengembangkan minatnya dalam serangga dan spesies langka. Naluri ilmiah Darwin didorong oleh Alan Sedgewick, seorang ahli bumi, dan juga didorong oleh John Stevens Henslow, seorang professor botany. Darwin kemudian menjadi naturalist (pencinta alam) dan ikut melakukan ekspedisi dengan HMS Beagle. Tim ekspedisi HMS Beagle berlayar dan mengunjungi banyak negeri di lautan Pasifik Selatan sebelum kembali ke Inggris melalui Tanjung Harapan Baik di Afrika Selatan, dalam rangka mengelilingi dunia.
Darwin juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran Thomas Malthus, dengan bukunya “Essay on the Principle of PopulationI”. Buku tersebut mengatakan bahwa populasi seharusnya bertambah sesuai dengan batas persediaan makanan, kalau tidak maka akan terjadi persaingan untuk memperebutkan makanan. Setelah membaca buku ini, Darwin memfokuskan teorinya bahwa “the diversity of species centered on the gaining of food - food being necessary both to survive and to breed”- semua jenis spesies terfokus dalam memenuhi kebutuhan makanan dan makanan berguna untuk kelangsungan hidup dan untuk berkembang biak.
Dari paparan di atas terlihat bahwa sukses seorang ilmuwan berskala dunia tidak jatuh dari langit, atau diperoleh saat kelahirannya. Kesuksesan sebagai ilmuwan diperoleh melalui proses kreatif (belajar kreatif) selama hidupnya.
Tidak semua orang memiliki kemampuan berganda yang hebat, Einstein misalnya pada masa kecil tidak beruntung dengan kemampuan bahasanya, namun ia mengembangkan kemampuan yang lain. Einstein bisa melejit pada bidang matematika. Bagi kita, mungkin bisa melejit pada bidang olah raga, musik, organisasi atau pada bidang lain.
Kesuksesan seorang anak juga akan terbentuk dengan dukungan orang tua seperti yang dialami Einstein, atau dukungan tokoh lain seperti yang dialami oleh Darwin. Tidak mungkin seseorang bisa sukses untuk skala nasional, apalagi untuk skala internasional kalau mereka tidak betah membaca. Newton membaca gagasan-gagasan filsuf seperti Descartes dan astronom seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler. Darwin dipengaruhi oleh pemikiran (buku) Thomas Malthus, nah bagaimana dengan anda ? Orang bisa sukses karena memiliki karakter tidak mudah putus asa, Thomas Alfa Edison, misalnya, sangat tahan banting dan tidak suka mengeluh. Sebelum menemui sebuah lampu pijar yang bisa menyala, ia harus melakukan 5.000 kali eksperimen di bengkel milik ayahnya.
Bagaimana proses belajar kreatif para ilmuwan berskala internasional ?
Cukup simple yaitu miliki suatu bakat atau minat dalam bidang ilmu (misal dalam seni, fisika, kimia, sejarah, ekonomi, geografi, dll), kemudian kembangkan minat tersebut dengan belajar keras dan lakukan otodidak. Mintalah dukungan dari orang terdekat, termasuk guru. Miliki karakter yang tahan banting (tidak suka putus asa dan mengeluh), miliki minat dan kesenangan membaca yang mendalam untuk menambah wawasan. Untuk sukses maka diperlukan puluhan, ratusan atau ribuan kali latihan.
Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar
SMA (Sekolah Menengah Atas) adalah sekolah yang sangat banyak dipilih untuk sekolah tingkat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Di sekolah ini (SMA) dan juga di Madrasah Aliyah, jurusan sains dianggap jurusan paling favorit. Mula-mula jurusan ini bernama jurusan paspal, kemudian menjadi IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), kemudian jurusan ini pecah dua menjadi jurusan fisika dan jurusan biologi, kemudian menjadi jurusan IA (Ilmu Alam), ada lagi yang menyebutnya dengan jurusan sains. Bidang studi yang meliputi jurusan ini adalah matematika, biologi, fisika, kimia, dan matematika. Sekarang ke empat bidang studi ini tercakup ke dalam bidang studi yang diuji dalam UN (Ujian Nasional).
Alasan mengapa jurusan IPA banyak dipilih (menurut anggapan siswa) karena kemungkinan untuk meraih sukses kuliah di universitas dengan jurusan bergengsi lebih luas. Kemudian, kesempatan untuk meraih sukses dalam karir juga lebih besar. Namun apakah hal ini benar dan apakah mereka telah belajar secara kreatif ?
Menjadi kreatif di zaman modern saat ini sudah menjadi sebuah kewajiban. Suatu negara tentu akan menghadapi banyak masalah jika negara tersebut kurang memberdayakan sumber daya manusianya untuk bisa menjadi kreatif. Menjadi kreatif itu luas maknanya. Kreatif dalam berkarya, kreatif dalam berpikir bahkan berkreatif dalam menyelesaikan masalah.
Dalam belajar sains atau IPA, guru dan siswa seharusnya perlu mengenal latar belakang dari ilmuwan dan bagaimana mereka bisa menciptakan konsep ilmu/ suatu rumus. Dalam realita bahwa umumnya guru dan siswa juga mengenal konsep dan rumus dan proses pembelajaran kerap kali bercorak membahas rumus dan soal-soal saja. Sangat tepat rasanya kalau guru dan siswa juga mengenal proses kreatif para ilmuwan (seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Isaac Newton, Charles Darwin dan lain-lain) dalam menemukan suatu fenomena lewat membaca buku biografi mereka.
1) Einstein, cara berbicaranya pada masa kecil tidak begitu menarik. Kemampuan berbahasa atau berbicaranya sangat lambat. Melihat kondisi itu orang tuanya sangat prihatin sehingga ia berkonsultasi dengan dokter. Karena kemampuan berbicaranya yang lambat membuatnya pernah gagal di sekolah dan kepala sekolah menyarankan agar ia keluar dari sekolah. Tentu saja ia memberontak kepada sekolah yang mengusirnya dan menganggapnya sebagai anak yang sangat bodoh.
Pada masa kecil, Einstein adalah anak yang baik dan ia punya karakter suka menolong, karakter ini membuatnya makin cerdas. Kemampuan berbahasanya memang lebih rendah dibandingkan kemampuan numerika atau matematika. Ia tidak pernah gagal dalam mata pelajaran matematika. Sebelum ia berumur lima belas tahun ia telah menguasai kalkulus diferensial dan integral yang dipelajarinya secara mandiri/ otodidak. Saat di sekolah dasar, dia berada di atas kemampuan rata-rata kelas, namun ia memiliki kegemaran untuk memecahkan masalah rumit dalam aritmatika terapan. Orang tuanya ikut mendukung minat Einstein dalam matematika. Ia membelikan buku-buku teks sehingga ia bisa menguasai pelajaran angka-angka selama liburan musim panas.
2) Thomas Alfa Edison, ia belajar bagaimana cara menemukan lampu. Sebelum lampu pertamanya menyala ia melakukan 5.000 eksperimen yang selalu berakhir dengan kegagalan. Namun cara berpikir yang dimiliki oleh Thomas Alfa Edison sangatlah positif dan tahan banting, ini membawanya kepada kreativitas tingkat tinggi.
3) Isaac Newton, lahir di Woolsthorpe- Lincolnshire,Inggris. Ia adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, alkimiwan, dan teolog yang berasal dari Inggris. Ayahnya yang juga bernama Isaac Newton meninggal tiga bulan sebelum kelahiran Newton. Newton dilahirkan secara prematur; Ketika Newton berumur tiga tahun, ibunya menikah kembali dan meninggalkan Newton di bawah asuhan neneknya.
Newton memulai sekolah saat tinggal bersama neneknya di desa dan kemudian dikirimkan ke sekolah bahasa di daerah Grantham dimana dia akhirnya menjadi anak terpandai di sekolahnya. Saat bersekolah di Grantham dia tinggal di-kost milik apoteker lokal (William Clarke). Sebelum meneruskan kuliah di Universitas Cambridge (usia 19), Newton sempat menjalin kasih dengan adik angkat William Clarke, Anne Storer. Namun Newton memfokuskan dirinya pada pelajaran dan kisah cintanya menjadi semakin tidak menentu/ putus begitu saja.
Keluarganya mengeluarkan Newton dari sekolah dengan alasan agar dia menjadi petani saja, bagaimanapun Newton tidak menyukai pekerjaan barunya. Kepala sekolah King's School kemudian meyakinkan ibunya untuk mengirim Newton kembali ke sekolah sehingga ia dapat menamatkan pendidikannya. Newton dapat menamatkan sekolah pada usia 18 tahun dengan nilai yang memuaskan.
Newton diterima di Trinity College Universitas Cambridge (sebagai mahasiswa yang belajar sambil bekerja untuk mengatasi masalah keuangannya). Pada saat itu, kurikulum universitas didasarkan pada ajaran Aristoteles, namun Newton lebih memilih untuk membaca gagasan-gagasan filsuf modern yang lebih maju seperti Descartes dan astronom seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler. Ia kemudian menemukan teorema binomial umum dan mulai mengembangkan teori matematika yang pada akhirnya berkembang menjadi kalkulus.
4) Charles Darwin lahir tanggal 12 Februari 1809 di Shropshire, Inggris. Ia anak ke lima Robert Waring Darwin. Ia belajar sesuai dengan kurikulum berbahasa Yunani Klasik. Ia tidak memperlihatkan prestasi yang banyak secara akademik. Kemudian ia mengambil jurusan kedokteran tetapi tidak banyak memperoleh kemajuan. Untuk itu ia melakukan usaha lain agar bisa maju. Ayahnya menyarankan Darwin untuk menjadi pendeta dan belajar di Christ's College untuk belajar teologi. Tetapi ia juga tidak memperoleh kemajuan, ia malah senang berburu dan permainan menembak.Ternyata Darwin mempunyai minat dalam mengkoleksi tanaman, serangga, dan benda-benda geologi. Ia tertarik dengan bakat berburu sepupunya William Darwin.
Darwin mengembangkan minatnya dalam serangga dan spesies langka. Naluri ilmiah Darwin didorong oleh Alan Sedgewick, seorang ahli bumi, dan juga didorong oleh John Stevens Henslow, seorang professor botany. Darwin kemudian menjadi naturalist (pencinta alam) dan ikut melakukan ekspedisi dengan HMS Beagle. Tim ekspedisi HMS Beagle berlayar dan mengunjungi banyak negeri di lautan Pasifik Selatan sebelum kembali ke Inggris melalui Tanjung Harapan Baik di Afrika Selatan, dalam rangka mengelilingi dunia.
Darwin juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran Thomas Malthus, dengan bukunya “Essay on the Principle of PopulationI”. Buku tersebut mengatakan bahwa populasi seharusnya bertambah sesuai dengan batas persediaan makanan, kalau tidak maka akan terjadi persaingan untuk memperebutkan makanan. Setelah membaca buku ini, Darwin memfokuskan teorinya bahwa “the diversity of species centered on the gaining of food - food being necessary both to survive and to breed”- semua jenis spesies terfokus dalam memenuhi kebutuhan makanan dan makanan berguna untuk kelangsungan hidup dan untuk berkembang biak.
Dari paparan di atas terlihat bahwa sukses seorang ilmuwan berskala dunia tidak jatuh dari langit, atau diperoleh saat kelahirannya. Kesuksesan sebagai ilmuwan diperoleh melalui proses kreatif (belajar kreatif) selama hidupnya.
Tidak semua orang memiliki kemampuan berganda yang hebat, Einstein misalnya pada masa kecil tidak beruntung dengan kemampuan bahasanya, namun ia mengembangkan kemampuan yang lain. Einstein bisa melejit pada bidang matematika. Bagi kita, mungkin bisa melejit pada bidang olah raga, musik, organisasi atau pada bidang lain.
Kesuksesan seorang anak juga akan terbentuk dengan dukungan orang tua seperti yang dialami Einstein, atau dukungan tokoh lain seperti yang dialami oleh Darwin. Tidak mungkin seseorang bisa sukses untuk skala nasional, apalagi untuk skala internasional kalau mereka tidak betah membaca. Newton membaca gagasan-gagasan filsuf seperti Descartes dan astronom seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler. Darwin dipengaruhi oleh pemikiran (buku) Thomas Malthus, nah bagaimana dengan anda ? Orang bisa sukses karena memiliki karakter tidak mudah putus asa, Thomas Alfa Edison, misalnya, sangat tahan banting dan tidak suka mengeluh. Sebelum menemui sebuah lampu pijar yang bisa menyala, ia harus melakukan 5.000 kali eksperimen di bengkel milik ayahnya.
Bagaimana proses belajar kreatif para ilmuwan berskala internasional ?
Cukup simple yaitu miliki suatu bakat atau minat dalam bidang ilmu (misal dalam seni, fisika, kimia, sejarah, ekonomi, geografi, dll), kemudian kembangkan minat tersebut dengan belajar keras dan lakukan otodidak. Mintalah dukungan dari orang terdekat, termasuk guru. Miliki karakter yang tahan banting (tidak suka putus asa dan mengeluh), miliki minat dan kesenangan membaca yang mendalam untuk menambah wawasan. Untuk sukses maka diperlukan puluhan, ratusan atau ribuan kali latihan.
Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar
12/12/2010
Hambatan-hambatan Menjadi Guru yang Profesional
Banyak hambatan yang dihadapi seorang guru untuk menjadi guru yang baik. Beberapa hambatan tersebut diantaranya adalah:
Gaji yang terlalu pas-pasan bahkan mungkin kurang. Gaji yang pas-pasan memaksa seorang guru untuk mencari nafkah tambahan seusai jam kerja. Hal ini mengakibatkan tidak memiliki kesempatan untuk membuat persiapan mengajar dengan membaca ulang materi pelajaran yang akan diajarkan besok hari. Hal ini dapat mengurangi kesiapan dan penampilan di muka kelas.
Banyak hambatan yang dihadapi seorang guru untuk menjadi guru yang baik. Beberapa hambatan tersebut diantaranya adalah:
Gaji yang terlalu pas-pasan bahkan mungkin kurang. Gaji yang pas-pasan memaksa seorang guru untuk mencari nafkah tambahan seusai jam kerja. Hal ini mengakibatkan tidak memiliki kesempatan untuk membuat persiapan mengajar dengan membaca ulang materi pelajaran yang akan diajarkan besok hari. Hal ini dapat mengurangi kesiapan dan penampilan di muka kelas.
Tugas-tugas administrasi yang memberatkan. Sejak diberlakukannya kurikulum 2006, banyak tugas-tugas administrasi yang harus dikerjakan seorang guru yang tujuannya untuk meningkatkan profesionalitas seorang guru. Ternyata tugas-tugas ini menjadi beban yang cukup berat dan hampir tidak ada manfaatnya untuk menambah penampilan dan kesiapan seorang guru di muka kaelas. Sebagian besar tugas administrasi dibuat dengan setengah terpaksa hanya untuk menyenangkan hati atasan. Sebagai contoh, seorang guru diwajibkan membuat KTSP, Silabus dan Tetek mbegek yang lain, yang memaksa guru menuliskan uraian yang sama pada tugas pertama dan ditulis ulang pada tugas kedua dan tugas ketiga. Semuanya ini tidak pernah dipakai untuk meringankan beban mengajar di kelas karena tugas-tugas tersebut tidak pernaha dibaca lagi pada waktu akan/dan sedang mengajar. Seorang guru lebih suka membuka dan membaca buku pegangan mengajar daripada membawa Program Satuan Mengajar, Analisis Materi Pelajaran ataupun Rencana Pengajaran. Tugas-tugas ini memang sangat berguna bagi seorang calon guru. Tapi bagi guru yang sudah mengajar lebih dari tiga tahun , tugas ini hanya merupakan pekerjaan yang sia-sia (dikerjakan, lalu disimpan dalam lemari dan baru akan diperlihatkan jika “sedang sial” dapat kebagian pengawas), yang akhirnya masuk keranjang sampah dan ….Tahun berikutnya dia harus menulis ulang pekerjaan yang sia-sia itu.
Belakangan ini beberapa sekolah yang baik dan dapat dikatakan sudah sangat berhasil tampil sebagai sekolah yang baik, sedang berusaha meningkatkan profesionalitas guru-gurunya yakni dengan memberi tugas tambahan kepada guru-guru untuk menganalisa setiap soal yang diberikan pada setiap kali ulangan. Dari hal tersebut diharapkan guru-guru pada suatu saat menjadi analisator soal yang baik, yang dapat membuat soal super sempurna dan valid jika diberikan kepada setiaap obyek yang di tes.
Mungkin perancang ide ini adalah orang yang tidak pernah menjadi guru atau memang bukan guru atau orang yang sengaja memberikan kesibukan sedemikan berat bagi guru agar guru tidak memikirkan kenaikan gaji yang terasa sangat pas-pasan.
Untuk menganalisa soal diperlukan waktu kira-kira dua puluh lima kali waktu yang diperlukan untuk mengoreksi soal tes. Jika seorang guru mengajar 15 (lima belas) kelas, setiap kelas berisi 40 siswa dan untuk mengoreksi tes setiap siswa diperlukan waktu 5 menit (untuk tes esey) maka setiap kali ulangan seoarang guru memerlukan waktu untuk mengoreksi selama 15 X 40 X 5 menit = 3000 menit atau 50 jam. Jika harus menganalisa soal tes yang diberikan, diperlukan waktu 25 X 50 jam = 1250 jam.
Dengan banyaknya waktu yang harus dihabiskan untuk melakukan tugas-tugas ini, kapan seorang guru mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri agar dapat tampil prima di muka kelas? Kapan guru bisa mengajar dengan baik? Oleh karena itu jangan salahkan guru kalau prestasi siswa menurun.
Lalu apakah ada manfaatnya soal tersebut dianalisa? Jawabnya T I D A K. Mengapa tidak. Soal yang sudah diberikan pada siswa dan sudah dianalisa dan valid, apakah mungkin dipakai lagi untuk tes yang akan datang, jawabnya juga T I D A K, mengapa? Soal yang sudah pernah dikeluarkan, jika dikeluarkan lagi untuk tes berikutnya pasti BOCOR, karena siswa berikutnya pasti sudah mempelajari soal tersebut. Tidak hanya itu. Pada analisa suatu soal untuk kelompok tes siswa A akan berbeda hasilnya dengan kelompok siswa B. Sekumpulan soal yang diberikan pada siswa sekolah A, valid, tetapi jika diberikan pada sekolah B tidak valid atau sebaliknya. Jika ditemukan hal seprti ini, apakah soal ini valid atau tidak?
Contoh nyata soal Ujian Nasional misalnya, untuk sekolah tertentu nilainya sangat baik (katakanlah rata-rata 9,00), tapi untuk sekolah yang lain nilainya sangat buruk (katakanlah rata-rata 5,00), bagaimana validitas soal UNAS tersebut?, tolonglah dipikirkan. Valid tidaknya suatu soal sangat ditentukan oleh kondisi siswa dan keadaaan serta kesiapan siswa menghadapi tes.
Menurut hemat saya yang paling baik adalah membahas soal-soal tes setelah diujikan, beberapa saat setelah diujikan. Di sini akan diketahui apakah soal yang disajikan itu baik atau tidak untuk kelompok tes itu.Menganalisa soal sebaiknya dilakukan oleh suatu tim analisator yang tugasnya memang mmenganalisa soal, bukan oleh seorang guru yang mengajar si kelas yang tugasnya sudah segudang. Soal-soal yang dianalisa, bukan hanya untuk porsi ulangan rutin sehari-hari namun juga utnuk tes yang sifatny masal untuk tujuan-tujuan tertentu.
Gaji yang terlalu pas-pasan bahkan mungkin kurang. Gaji yang pas-pasan memaksa seorang guru untuk mencari nafkah tambahan seusai jam kerja. Hal ini mengakibatkan tidak memiliki kesempatan untuk membuat persiapan mengajar dengan membaca ulang materi pelajaran yang akan diajarkan besok hari. Hal ini dapat mengurangi kesiapan dan penampilan di muka kelas.
Banyak hambatan yang dihadapi seorang guru untuk menjadi guru yang baik. Beberapa hambatan tersebut diantaranya adalah:
Gaji yang terlalu pas-pasan bahkan mungkin kurang. Gaji yang pas-pasan memaksa seorang guru untuk mencari nafkah tambahan seusai jam kerja. Hal ini mengakibatkan tidak memiliki kesempatan untuk membuat persiapan mengajar dengan membaca ulang materi pelajaran yang akan diajarkan besok hari. Hal ini dapat mengurangi kesiapan dan penampilan di muka kelas.
Tugas-tugas administrasi yang memberatkan. Sejak diberlakukannya kurikulum 2006, banyak tugas-tugas administrasi yang harus dikerjakan seorang guru yang tujuannya untuk meningkatkan profesionalitas seorang guru. Ternyata tugas-tugas ini menjadi beban yang cukup berat dan hampir tidak ada manfaatnya untuk menambah penampilan dan kesiapan seorang guru di muka kaelas. Sebagian besar tugas administrasi dibuat dengan setengah terpaksa hanya untuk menyenangkan hati atasan. Sebagai contoh, seorang guru diwajibkan membuat KTSP, Silabus dan Tetek mbegek yang lain, yang memaksa guru menuliskan uraian yang sama pada tugas pertama dan ditulis ulang pada tugas kedua dan tugas ketiga. Semuanya ini tidak pernah dipakai untuk meringankan beban mengajar di kelas karena tugas-tugas tersebut tidak pernaha dibaca lagi pada waktu akan/dan sedang mengajar. Seorang guru lebih suka membuka dan membaca buku pegangan mengajar daripada membawa Program Satuan Mengajar, Analisis Materi Pelajaran ataupun Rencana Pengajaran. Tugas-tugas ini memang sangat berguna bagi seorang calon guru. Tapi bagi guru yang sudah mengajar lebih dari tiga tahun , tugas ini hanya merupakan pekerjaan yang sia-sia (dikerjakan, lalu disimpan dalam lemari dan baru akan diperlihatkan jika “sedang sial” dapat kebagian pengawas), yang akhirnya masuk keranjang sampah dan ….Tahun berikutnya dia harus menulis ulang pekerjaan yang sia-sia itu.
Belakangan ini beberapa sekolah yang baik dan dapat dikatakan sudah sangat berhasil tampil sebagai sekolah yang baik, sedang berusaha meningkatkan profesionalitas guru-gurunya yakni dengan memberi tugas tambahan kepada guru-guru untuk menganalisa setiap soal yang diberikan pada setiap kali ulangan. Dari hal tersebut diharapkan guru-guru pada suatu saat menjadi analisator soal yang baik, yang dapat membuat soal super sempurna dan valid jika diberikan kepada setiaap obyek yang di tes.
Mungkin perancang ide ini adalah orang yang tidak pernah menjadi guru atau memang bukan guru atau orang yang sengaja memberikan kesibukan sedemikan berat bagi guru agar guru tidak memikirkan kenaikan gaji yang terasa sangat pas-pasan.
Untuk menganalisa soal diperlukan waktu kira-kira dua puluh lima kali waktu yang diperlukan untuk mengoreksi soal tes. Jika seorang guru mengajar 15 (lima belas) kelas, setiap kelas berisi 40 siswa dan untuk mengoreksi tes setiap siswa diperlukan waktu 5 menit (untuk tes esey) maka setiap kali ulangan seoarang guru memerlukan waktu untuk mengoreksi selama 15 X 40 X 5 menit = 3000 menit atau 50 jam. Jika harus menganalisa soal tes yang diberikan, diperlukan waktu 25 X 50 jam = 1250 jam.
Dengan banyaknya waktu yang harus dihabiskan untuk melakukan tugas-tugas ini, kapan seorang guru mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri agar dapat tampil prima di muka kelas? Kapan guru bisa mengajar dengan baik? Oleh karena itu jangan salahkan guru kalau prestasi siswa menurun.
Lalu apakah ada manfaatnya soal tersebut dianalisa? Jawabnya T I D A K. Mengapa tidak. Soal yang sudah diberikan pada siswa dan sudah dianalisa dan valid, apakah mungkin dipakai lagi untuk tes yang akan datang, jawabnya juga T I D A K, mengapa? Soal yang sudah pernah dikeluarkan, jika dikeluarkan lagi untuk tes berikutnya pasti BOCOR, karena siswa berikutnya pasti sudah mempelajari soal tersebut. Tidak hanya itu. Pada analisa suatu soal untuk kelompok tes siswa A akan berbeda hasilnya dengan kelompok siswa B. Sekumpulan soal yang diberikan pada siswa sekolah A, valid, tetapi jika diberikan pada sekolah B tidak valid atau sebaliknya. Jika ditemukan hal seprti ini, apakah soal ini valid atau tidak?
Contoh nyata soal Ujian Nasional misalnya, untuk sekolah tertentu nilainya sangat baik (katakanlah rata-rata 9,00), tapi untuk sekolah yang lain nilainya sangat buruk (katakanlah rata-rata 5,00), bagaimana validitas soal UNAS tersebut?, tolonglah dipikirkan. Valid tidaknya suatu soal sangat ditentukan oleh kondisi siswa dan keadaaan serta kesiapan siswa menghadapi tes.
Menurut hemat saya yang paling baik adalah membahas soal-soal tes setelah diujikan, beberapa saat setelah diujikan. Di sini akan diketahui apakah soal yang disajikan itu baik atau tidak untuk kelompok tes itu.Menganalisa soal sebaiknya dilakukan oleh suatu tim analisator yang tugasnya memang mmenganalisa soal, bukan oleh seorang guru yang mengajar si kelas yang tugasnya sudah segudang. Soal-soal yang dianalisa, bukan hanya untuk porsi ulangan rutin sehari-hari namun juga utnuk tes yang sifatny masal untuk tujuan-tujuan tertentu.
7 cara menjadi guru yang profesional dalam bersikap
1. Anda sedang berada diruang guru untuk beristirahat atau sekedar berkumpul dengan rekan sejawat? Sedikit demi sedikit ubah kebiasaan untuk membicarakan hal dan topik diluar areal kita sebagai pendidik professional.
1. Anda sedang berada diruang guru untuk beristirahat atau sekedar berkumpul dengan rekan sejawat? Sedikit demi sedikit ubah kebiasaan untuk membicarakan hal dan topik diluar areal kita sebagai pendidik professional. Pertama kali anda mungkin akan dianggap aneh, namun sebagai guru jangan khawatir dianggap aneh jika yang kita maksudkan adalah demi perbaikan pola pikir dalam bersikap dan berkarier. Sekarang mana yang lebih penting, membicarakan gosip artis terbaru atau menganalisa pola pikir pemilih pemula dalam pemilu yang baru lalu yang nota bene adalah siswa-siswi kita? Tidak itu saja banyak topik yang jika kita renungkan, tidak layak didiskusikan oleh guru sebagai pendidik. Jika anda masih merasa sulit untuk melakukan hal diatas, caranya gampang, cukup cari bacaan yang bermanfaat, bacalah maka anda akan terhindar dari pembicaraan yang sia-sia di ruang guru.
2. Jika anda punya rekan baru, bimbinglah dan berikan support dan dukungan untuk maju dengan cara selalu berkomentar positip untuk hal-hal yang dilakukannya. Tempatkan diri anda pada dirinya, maka anda akan menjadi rekan kerja yang supportif dan mau mengerti.
3. Saat rapat, usahakan lah memberikan ide yang terbaik, masalahnya bukan pada diterima atau tidak, tapi sudahkah anda belajar meyakinkan orang lain bahwa ide andalah yang terbaik. Hal yang terbaik ketika meyakinkan rekan sekerja adalah dengan menggunakan data yang berupa hasil riset.
4. Jadilah guru yang berpikiran terbuka atas ide atau pendapat orang lain, menyadari kelemahan dan kekuatan diri kita sendiri, dijamin makin hari wawasan dan kualitas diri kita sebagai guru akan bertambah.
5. Ciptakan jaringan bagi diri sendiri yang membuat anda semakin hari berubah kearah guru yang lebih baik. Gunakan situs pertemanan seperti facebook untuk membuat jaringan pada pribadi-pribadi yang membuat anda bersemangat untuk maju. Jangan gunakan situs pertemanan untuk pelarian ketika anda mempunyai masalah dengan rekan sekerja di sekolah. Sambil berusaha sedikit demi sedikit menyelesaikan hal yang mungkin menjadi ganjalan , buktikan bahwa jika anda tidak mendapatkan support yang baik disekolah anda bisa mendapatkannya dengan bantuan teknologi.
6. Semua guru berbeda, seperti juga terhadap siswa, sebagai rekan kita semestinya menjadikan perbedaan itu sebagai anugrah. Dengan menyadari perbedaan, pikiran kita akan lebih cepat terbuka ketika menerima kritik, masukan dan ide dari rekan sekerja. Saat yang sama kita menjadi lebih jujur mengenai kelebihan dan tidak malu mengatakan kekurangan sebagai pribadi.
7. Jangan takut untuk dibicarakan oleh orang lain ‘dibelakang’. Terkadang sebagai guru, hanya karena takut dibicarakan orang lain dibelakang, guru menjadi malas untuk berinovasi dan melakukan sesuatu dengan cara yang kreatif dan beda. Padahal jika sebagai guru, kita yakin bahwa hal yang kita lakukan demi kebaikan siswa, untuk apa pusing mendengarkan pendapat orang lain. Mari mensucikan niat bahwa semua hal yang terbaik yang kita lakukan adalah demi mempersiapkan masa depan siswa, bukan demi karier, demi dipuji rekan, atasan dan orang tua siswa.
1. Anda sedang berada diruang guru untuk beristirahat atau sekedar berkumpul dengan rekan sejawat? Sedikit demi sedikit ubah kebiasaan untuk membicarakan hal dan topik diluar areal kita sebagai pendidik professional. Pertama kali anda mungkin akan dianggap aneh, namun sebagai guru jangan khawatir dianggap aneh jika yang kita maksudkan adalah demi perbaikan pola pikir dalam bersikap dan berkarier. Sekarang mana yang lebih penting, membicarakan gosip artis terbaru atau menganalisa pola pikir pemilih pemula dalam pemilu yang baru lalu yang nota bene adalah siswa-siswi kita? Tidak itu saja banyak topik yang jika kita renungkan, tidak layak didiskusikan oleh guru sebagai pendidik. Jika anda masih merasa sulit untuk melakukan hal diatas, caranya gampang, cukup cari bacaan yang bermanfaat, bacalah maka anda akan terhindar dari pembicaraan yang sia-sia di ruang guru.
2. Jika anda punya rekan baru, bimbinglah dan berikan support dan dukungan untuk maju dengan cara selalu berkomentar positip untuk hal-hal yang dilakukannya. Tempatkan diri anda pada dirinya, maka anda akan menjadi rekan kerja yang supportif dan mau mengerti.
3. Saat rapat, usahakan lah memberikan ide yang terbaik, masalahnya bukan pada diterima atau tidak, tapi sudahkah anda belajar meyakinkan orang lain bahwa ide andalah yang terbaik. Hal yang terbaik ketika meyakinkan rekan sekerja adalah dengan menggunakan data yang berupa hasil riset.
4. Jadilah guru yang berpikiran terbuka atas ide atau pendapat orang lain, menyadari kelemahan dan kekuatan diri kita sendiri, dijamin makin hari wawasan dan kualitas diri kita sebagai guru akan bertambah.
5. Ciptakan jaringan bagi diri sendiri yang membuat anda semakin hari berubah kearah guru yang lebih baik. Gunakan situs pertemanan seperti facebook untuk membuat jaringan pada pribadi-pribadi yang membuat anda bersemangat untuk maju. Jangan gunakan situs pertemanan untuk pelarian ketika anda mempunyai masalah dengan rekan sekerja di sekolah. Sambil berusaha sedikit demi sedikit menyelesaikan hal yang mungkin menjadi ganjalan , buktikan bahwa jika anda tidak mendapatkan support yang baik disekolah anda bisa mendapatkannya dengan bantuan teknologi.
6. Semua guru berbeda, seperti juga terhadap siswa, sebagai rekan kita semestinya menjadikan perbedaan itu sebagai anugrah. Dengan menyadari perbedaan, pikiran kita akan lebih cepat terbuka ketika menerima kritik, masukan dan ide dari rekan sekerja. Saat yang sama kita menjadi lebih jujur mengenai kelebihan dan tidak malu mengatakan kekurangan sebagai pribadi.
7. Jangan takut untuk dibicarakan oleh orang lain ‘dibelakang’. Terkadang sebagai guru, hanya karena takut dibicarakan orang lain dibelakang, guru menjadi malas untuk berinovasi dan melakukan sesuatu dengan cara yang kreatif dan beda. Padahal jika sebagai guru, kita yakin bahwa hal yang kita lakukan demi kebaikan siswa, untuk apa pusing mendengarkan pendapat orang lain. Mari mensucikan niat bahwa semua hal yang terbaik yang kita lakukan adalah demi mempersiapkan masa depan siswa, bukan demi karier, demi dipuji rekan, atasan dan orang tua siswa.
Subscribe to:
Posts (Atom)
